Home ::: Berita Perpustakaan ::: 14 September Hari Kunjung Perpustakaan, Upaya Dongkrak Minat Baca Masyarakat
Ilustrasi

14 September Hari Kunjung Perpustakaan, Upaya Dongkrak Minat Baca Masyarakat

Ingin publikasi GRATIS kegiatan perpustakaan, TBM, sudut baca, dan aktivis kegiatan literasi lainya, Artikel, Makalah, dll segera hubungi kami DISINI!

Khusus pegiat literasi dan pustakawan yang ingin punya akun khusus disini, segera hubungi WhatsApp kami: 08586 8080 173

-----------------------------------------------------------

14 September Hari Kunjung Perpustakaan, Upaya Dongkrak Minat Baca Masyarakat.

Dunia Perpustakaan | Bulan September dalam kalender nasional memiliki dua momen penting. Bulan kesembilan itu dijadikan sebagai Bulan Gemar Membaca dan tanggal 14 September diperingati sebagai Hari Kunjung Perpustakaan.

Dua momen tersebut penting untuk mendongkrak minat baca buku masyarakat Indonesia. Minat masyarakat membaca buku masih rendah. Sebuah survei yang dilakukan Central Connecticut State University di New Britain yang bekerja sama dengan sejumlah peneliti sosial menempatkan Indonesia di peringkat 60 dari 61 negara terkait minat baca.

Survei dilakukan sejak 2003 hingga 2014. Indonesia hanya unggul dari Bostwana yang berada di posisi 61. Sementara, Thailand berada satu tingkat di atas Indonesia, yakni posisi 59. Finlandia dinobatkan sebagai negara dengan minat baca nomor satu sedunia.

Budaya membaca buku sepatutnya ditanamkan sejak dini. Melalui membaca, cakrawala berpikir seseorang akan terbuka dan menyerap banyak ilmu pengetahuan. Minat baca akan memengaruhi kehidupan individu dan bangsa pada masa mendatang, juga pemahaman ekonomi untuk menentukan masa depan global.

Dikutip dari metrotvnews.com, [14/09/16]. Di sinilah peran penting perpustakaan diperlukan. Perpustakaan menjadi jembatan mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam UU Nomor 43 Tahun 2007 disebutkan mengenai fungsi dan peran perpustakaan.

UU tersebut antara lain menyebutkan bahwa dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, perpustakaan sebagai wahana belajar sepanjang hayat mengembangkan potensi masyarakat agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan nasional;

bahwa sebagai salah satu upaya untuk memajukan kebudayaan nasional, perpustakaan merupakan wahana pelestarian kekayaan budaya bangsa;

bahwa dalam rangka meningkatkan kecerdasan kehidupan bangsa, perlu ditumbuhkan budaya gemar membaca melalui pengembangan dan pendayagunaan perpustakaan sebagai sumber informasi yang berupa karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam.

Jauh sebelum UU tersebut lahir, kesadaran akan pentingnya peranan perpustakaan dan betapa membaca memberikan efek yang baik bagi bangsa, membuat Presiden Soeharto pada 14 September 1995 meresmikan Hari Kunjung Perpustakaan dan Bulan Gemar Membaca di Banjarmasin.

Hal ini tidak luput dari peran Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) kala itu, Mastini Hardjoprakoso yang juga memiliki kedekatan dengan Ibu Negara Tien Soeharto.

Sekretaris Utama (Sestama) Perpusnas Dedi Junaedi mengatakan, setelah adanya penetapan peringatan Hari Kunjung Perpustakaan dan Bulan Gemar Membaca, Perpusnas ingin adanya implementasi di masyarakat. Sebab menurutnya, membaca dan mengunjungi perpustakaan sangat penting, tak mengenal usia dan ras.

“Masyarakat tua atau muda silakan datang ke perpustakaan, dan mudah-mudahan masyarakat bisa memanfaatkannya untuk belajar sepanjang hayat, karena kalau di sekolah waktu terbatas. Kalau dari sisi usia, belajar di sekolah sampai 24 tahun.

Beda kalau di perpustakaan. Bahkan, Duta Baca kami yang pertama, Tantowi Yahya, bilang bahwa perpustakaan itu universitasnya masyarakat,” ucap Dedi, dalam wawancara dengan Metrotvnews.com di Gedung Utama Perpusnas, Jalan Salemba Raya 28, Jakarta Pusat.

Seiring berjalannya waktu, pertumbuhan perpustakaan di Indonesia semakin baik. Dari 515 kabupaten kota, 480 di antaranya telah memiliki kelembagaan (perpustakaan) kabupaten kota. “Dengan hadirnya Perpusnas di Jakarta, Perpus Provinsi, Perpusda dan lainnya, mudah-mudahan akses masyarakat terhadap buku semakin mudah,” kata Dedi.

Hari Kunjung Perpustakaan menjadi momen penting dunia perpustakaan Indonesia. Pada peringatan 14 September biasanya banyak sekali kegiatan yang diadakan perpustakaan di seluruh Indonesia.

“Kalau di perpustakaan kabupaten/kota ada lomba gambar, misalnya. Nah, kan minimal yang datang orang tua dan gurunya. Dengan seperti itu, mereka kalau berkunjung kita berikan tempat yang nyaman dan sejuk. Pasti ini akan menarik minat pengunjung.

Bahkan, di Jawa Barat ada anak SMA main band, itu juga akan memotivasi siswa lain untuk bisa melakukan hal serupa. Atau kita sediakan panggung kecil untuk nonton film anak, tapi tidak ditamatkan. Jadi kita bisa bilang kepada anak-anak yang datang, ‘Kalau ingin tahu kelanjutan filmnya, bisa membaca bukunya.’ Nah, ini kan juga bisa memicu minat baca,” kata Dedi menjelaskan.

Peringatan Hari Kunjung Perpustakaan dan Bulan Gemar Membaca di Perpusnas yang berlokasi di Jalan Salemba Raya 28, Jakarta Pusat, disemarakkan Festival Naskah Nusantara. Pada ajang yang biasanya berlangsung selama empat hari itu, Perpusnas akan memamerkan koleksi naskah kuno yang dimilikinya.

Salah satu koleksi naskah kuno di Perpustakaan Nasional (Foto:Metrotvnews.com)
          Salah satu koleksi naskah kuno di Perpustakaan Nasional (Foto:Metrotvnews.com)

 

Naskah kuno tersebut berusia ratusan tahun. Bahan yang digunakan, salah satunya lontar. Bahasa dan aksaranya, ada yang menggunakan bahasa dan aksara Arab, Melayu, dan Jawa kuno. Misalnya, naskah Negarakertagama, Surek Baweng, Babad Diponegoro, Undang-undang Kedah dan masih banyak lagi.

Festival Naskah Nusantara rutin diselenggarakan selama dua tahun terakhir. Selain menjadi ajang pameran naskah kuno,  juga terdapat untuk membuat naskah kuno dengan menghadirkan orang daerah asli yang bisa membaca naskah tersebut. Festival tersebut turut diramaikan pagelaran musik, seminar, dan pemutaran film yang biasanya menghadirkan sutradara atau sang tokoh utama.

Acara tersebut, yang awalnya hanya kajian buku saja, mendapat respons sangat positif dari masyarakat. Terbukti dari ramainya pengunjung yang datang setiap hari, dan meningkat setiap tahunnya. Diharapkan, masyarakat tak hanya memperingati hari itu saja, namun juga mengimplementasikannya dalam berbagai kegiatan.

“Negara kita itu kaya,  dan naskah merupakan bagian dari sejarah. Jangan sampai generasi sekarang lupa sejarah dan karakter bangsa kita. Melalui Festival Naskah Nusantara, kita berupaya mengenalkan kekayaan bangsa yang harus terus dilestarikan,” kata Dedi.

Tentang Penulis: Dunia Perpustakaan

DuniaPerpustakaan.com merupakan salah satu portal berita dan informasi yang dimiliki CV Dunia Perpustakaan GROUP yang berisi terkait dengan semua informasi bidang ilmu perpustakaan. Didalamnya membahas terkait dengan Software Perpustakaan, Lowongan Kerja untuk Pustakawan, Profile Perpustakaan di dalam negeri dan luar negeri, Sosok Inspirasi terkait Pustakawan dan pejuang literasi, dll

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar