Home ::: Artikel Perpustakaan ::: Literasi dan Kehidupan Masyarakat

Literasi dan Kehidupan Masyarakat

Ingin publikasi GRATIS kegiatan perpustakaan, TBM, sudut baca, dan aktivis kegiatan literasi lainya, Artikel, Makalah, dll segera hubungi kami DISINI!

Khusus pegiat literasi dan pustakawan yang ingin punya akun khusus disini, segera hubungi WhatsApp kami: 08586 8080 173

-----------------------------------------------------------

Literasi dan Kehidupan Masyarakat.

Dunia Perpustakaan | Negara Indonesia menempati urutan bawah dalam literasi dunia. Hal ini disebabkan karena budaya literasi masyarakatnya masih sangat rendah. Sejak 16 tahun silam, Indonesia telah ikut dalam proyek penelitian dunia untuk mengukur literasi membaca, matematika dan ilmu pengetahuan alam.

Dari proyek penelitian dunia tersebut, terbukti memang Indonesia merupakan negara yang kurang daya bacanya dalam literacy purpose. Kebanyakan orang Indonesia membaca atas dasar information purpose (Aulia, 2014). Literasi adalah kemampuan hidup (life skill). Oleh karena itu, literasi merupakan kebutuhan hidup masyarakat maju. Tentu saja rendahnya literasi seseorang menghambat kemajuan hidup suatu bangsa.

Berdasarkan konteks penggunaannya Baynham (1995) menyatakan bahwa literasi merupakan integrasi keterampilan menyimak, berbicara, menulis, membaca, dan berpikir kritis. Maka hal itu terkait dengan kemampuan bahasa seseorang. Bahasa itu sendiri sangat erat dan tidak dapat dipisahkan hubungannya dengan budaya. Kehidupan yang bermutu tentulah hidup yang memiliki budaya literasi yang baik.

Tingginya tingkat literasi seseorang akan menjadikan orang tersebut mampu melakukan fungsi-fungsinya di dalam kehidupan. Hal itu terlihat dari kemampuan seseorang dalam berbicara, memahami sebuah informasi dengan baik sehingga pada akhirnya mampu menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi di dalam hidup. Dengan demikian berarti seseorang belajar mengembangkan potensi-potensi dalam dirinya untuk mencapai tujuan hidup.

Setiap orang adalah makhluk sosial. Makhluk sosial memerlukan keterampilan berbahasa dalam melakukan fungsinya di dalam kehidupan masyarakat. Untuk itu, kemampuan literasi sangat penting menjadi bekal diterimanya seseorang di dalam wadah masyarakat itu sendiri. Tingginya tingkat literasi seseorang terlihat dari sejauh mana keluwesannya dalam berinteraksi dan bekerja sama di dalam lembaga-lembaga sosial yang ada di masyarakat.

Peran literasi di dunia pendidikan juga sangat besar. Semakin tinggi tingkat literasi pelajar maka akan semakin tinggi pula tingkat mutu pendidikannya. Hal ini terlihat dari perbedaan siswa yang di dalam kelasnya hanya mendapatkan pembelajaran lewat metode ceramah dengan siswa yang mendapatkan pembelajaran melalui metode problem solving, diskusi atau praktik langsung.

Misalnya, ketika guru hanya mengajarkan apa itu pidato, seperti apa susunan dan bagaimana teknik-teknik yang baik dalam berpidato melalui ceramah saja tentu akan berbeda jika guru mengajak siswa mengalami langsung seperti apa dan bagaimana berpidato di depan kelas. Literasi siswa yang dibimbing untuk praktik langsung jauh lebih baik dibandingkan dengan siswa yang hanya mendapatkan ilmu secara teoritis saja.

Siswa yang praktik langsung mengalami proses menyimak, membaca, menulis, berbicara dan berpikir kritis. Hal ini sejalan dengan ungkapan Magnessen (dalam Silberman, 1996) bahwa “Kita belajar 10% dari apa yang kita baca, 20% dari apa yang kita dengar, 30% dari apa yang kita lihat, 50% dari apa yang kita lihat dan dengar, 70% dari apa yang kita katakan, 90% dari apa yang kita katakan dan lakukan.”

Kemampuan literasi dalam hal ini dapat diartikan juga sebagai proses membaca. Membaca yang dimaksud adalah membaca dalam konteks yang sangat luas yaitu iqra’.

Membaca untuk memahami, membaca untuk menganalisis lingkungan dan masalah sekitar untuk kemudian dapat digunakan sebagai bahan untuk memecahkan sebuah masalah kehidupan. Hal ini juga dipertegas dengan sabda Rasulullah SAW : “Siapa saja yang menginginkan sukses di dunia, maka raihlah dengan ilmu.

Siapa saja yang menginginkan sukses di akhirat, maka raihlah dengan ilmu. Dan siapa saja yang menginginkan sukses di dunia dan akhirat, maka raihlah keduanya dengan ilmu.”

Melihat kenyataan yang ada bahwa masyarakat Indonesia memiliki tingkat literasi yang masih rendah maka diperlukan sebuah perubahan. Perubahan di sini dapat kita mulai dari dimensi pendidikan. Seperti dengan membangun budaya literasi di sekolah-sekolah yang ada di negeri ini. Misalnya dengan membiasakan anak-anak didik terampil membaca setiap harinya hingga memasukkan literasi karakter ke dalam kurikulum tersembunyi sebuah sekolah.

Sumber: sekolahguruindonesia.net

Tentang Penulis: Dunia Perpustakaan

DuniaPerpustakaan.com merupakan salah satu portal berita dan informasi yang dimiliki CV Dunia Perpustakaan GROUP yang berisi terkait dengan semua informasi bidang ilmu perpustakaan. Didalamnya membahas terkait dengan Software Perpustakaan, Lowongan Kerja untuk Pustakawan, Profile Perpustakaan di dalam negeri dan luar negeri, Sosok Inspirasi terkait Pustakawan dan pejuang literasi, dll

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar