Home / Artikel Perpustakaan / Mengelola Budaya Baca Bukan Hanya Tanggung Jawab Kepala Sekolah dan Guru
Ilustrasi

Mengelola Budaya Baca Bukan Hanya Tanggung Jawab Kepala Sekolah dan Guru

Ingin publikasi GRATIS kegiatan perpustakaan, TBM, sudut baca, dan aktivis kegiatan literasi lainya, Artikel, Makalah, dll segera hubungi kami DISINI!

Khusus pegiat literasi dan pustakawan yang ingin punya akun khusus disini, segera hubungi WhatsApp kami: 08586 8080 173

Mengelola Budaya Baca Bukan Hanya Tanggung Jawab Kepala Sekolah dan Guru.

Dunia Pepustakaan | Membiasakan membaca buku bagi anak-anak di sekolah bukan saja tanggung jawab guru atau kepala sekolah. Hal tersebut merupakan upaya dari berbagai pihak, baik di sekolah, di rumah, maupun di masyarakat.

Bersamabergerak untuk menciptakan kebiasaan. Kepala sekolah mengelola sumber daya yang ada sehingga kegiatan-kegiatan membaca bisa terlaksana di sekolah. Guru melalui kegiatan pembelajaran dapat mengelola siswa untuk membiasakan diri membaca setiap hari meski hanya 10 menit.

Orangtua di rumah menemani dan mendukung gerakan membaca di rumah. Sedangkan masyarakat di lingkungan sekitar dapat mendukung dengan perpustakaan local atau mengadakan kegiatan-kegiatan gemar membaca.

USAID PRIORITAS Jawa Timur sejak 24-27 Agusturs 2015, melatih 65 fasilitator daerah dari 13 kabupaten/kota se Jaw Timur. Pelatihan yang difokuskan Pelatihan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) untuk Pelatih Tingkat Provinsi, bertempat di Savana Hotel Malang.

Pelatihan dengan menggunakan Modul III dimana terdapat materi di dalamnya tentang “Pengelolaan Budaya Baca”. Ke-13 kabupaten / kota tersebut meliputi Kabupaten Sidoarjo, Bangkalan, Pasuruan, Bojonegoro, Tuban, Nganjuk, Sampang, Pamekasan,  Blitar, Situbondo, Pamekasan, dan Kabupaten/Kota Mojokerto.

Menurut Dyah Haryati Puspitasari selaku Whole School Development USAID PRIORITAS Jawa Timur, pengelolaan budaya baca menjadi tantangan untuk sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendukung gerakan membaca.

Dikutip dari sumber siagaindonesia.com, [29/07/16]. “Ada 4 hal yang ditekankan dalam pelatihan MBS untuk Modul III ini,” jelasnya. Yakni:

  1. Mengetahui sejauh mana program budaya baca telah berjalan di sekolah masing-masing
  2. Mendapatkan cara-cara / kegiatan baru untuk meningkatkan budaya baca di sekolah, rumah / masyarakat
  3. Mempunyai rencana pengembangan budaya baca yang baru di sekolah
  4. Berbagi tindakan nyata antara kepala sekolah, guru, dan komite sekolah dalam mengelola program budaya baca di sekolah / masyarakat.

Sebelumnya, para peserta pelatihan telah mendapatkan pelatihan Modul II dimana terdapat materi tentang Menciptakan Program Membaca di sekolah.

Di dalam Modul III ini, menurut Dyah, adalah bagaimana keberlanjutan budaya baca terus dilakukan agar menjadi program tetap dan abadi yang dimiliki oleh sekolah.

Dalam pelatihan ini, dibahas pula kiat  melakukan supervise informal dan supervisi klinis di kelas, termasuk di dalamnya tentang mekanisme penilaian kinerja guru (PKG).

Tentang USAID PRIORITAS

Program USAID Prioritizing Reform, Innovation, Opportunities for Reaching Indonesia’s Teacher, Administrators, and Students (USAID PRIORITAS) adalah program lima tahun senilai $ 83,7 juta yang di danai oleh  United States Agency for International Development  (USAID).

Program ini di desain untuk membawa pendidikan berkelas dunia kepada banyak siswa di Indonesia.  Program USAID PRIORITAS di implementasikan di delapan provinsi yaitu Aceh, Sumut, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Papua.

About Dunia Perpustakaan

DuniaPerpustakaan.com merupakan salah satu portal berita dan informasi yang dimiliki CV DP GROUP yang berisi terkait dengan semua informasi bidang ilmu perpustakaan. Didalamnya membahas terkait dengan Software Perpustakaan, Lowongan Kerja untuk Pustakawan, Profile Perpustakaan di dalam negeri dan luar negeri, Sosok Inspirasi terkait Pustakawan dan pejuang literasi, dll

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *