Home ::: Berita Perpustakaan ::: Mengenal Perpustakaan Umum Tertua di Jakarta
ilustrasi

Mengenal Perpustakaan Umum Tertua di Jakarta

Ingin publikasi GRATIS kegiatan perpustakaan, TBM, sudut baca, dan aktivis kegiatan literasi lainya, Artikel, Makalah, dll segera hubungi kami DISINI!

Khusus pegiat literasi dan pustakawan yang ingin punya akun khusus disini, segera hubungi WhatsApp kami: 08586 8080 173

-----------------------------------------------------------

Mengenal Perpustakaan Umum Tertua di Jakarta.

Dunia Perpustakaan | Perpustakaan itu berdiri kokoh di Gedung Nyi Ageng Serang, tak jauh dari pusat kota DKI Jakarta. Namun, para pengunjung harus rela menapaki beberapa lantai demi mendatangi perpustakaan umum tertua di Jakarta ini.

Nuansa khas Betawi begitu kental saat memasuki ruangan yang terletak di lantai dua Perpumda DKI Jakarta itu. Ruangan berornamen serba kayu tersebut pun menyimpan beragam koleksi tentang sejarah DKI Jakarta.

Dimulai dari beranda yang dilengkapi dengan meja dan kursi layaknya tempat bersantai di rumah tradisional Jakarta. Di sisi kiri beranda terpampang foto para gubernur DKI Jakarta yang telah menyelesaikan masa jabatan dari awal sampai saat ini. Melangkah ke dalam, sepasang boneka ondel-ondel yang berdiri di sudut ruangan kian menambah identitas Betawi di perpustakaan ini.

Syahmiranti, pustakawan perpumda ini, menuturkan, ruang khusus DKI Jakarta berfungsi sebagai pengingat budaya Betawi. ”Pojok koleksi Betawi tujuan  awalnya ada karena perpustakaan ini milik Provinsi DKI Jakarta, jadi kami ingin ada koleksi khusus bermuatan lokal. Tidak hanya buku, tapi dibuat juga desain arsitekturnya seperti rumah Betawi,” ujarnya, akhir pekan lalu.

Hanya saja, sambung Syahmiranti, tidak terlalu banyak orang yang mengunjungi ruang tersebut. Pengunjung, lanjut dia, tidak sebanyak di ruangan koleksi umum. ”Tapi kebanyakan yang datang ke sana karena mereka cari referensi karena ada tugas soal Jakarta. Selain itu juga ada yang buat tulisan dan melakukan penelitian,” jelasnya.

Hal itu pun diakui oleh Mega, seorang petugas di perpustakaan ini. Dikutip dari republika.co.id, [05/09/16]. ”Kalau ruang khusus DKI Jakarta itu pengunjungnya bisa dikatakan insidental, misal mereka yang sedang melakukan penelitian,” katanya.

Meski begitu, Mega tidak menampik ada beberapa pengunjung yang sering menyambangi ruangan tersebut. ”Ada juga yang ke sini harian karena ia memang menyukai budaya Betawi.”

Ruangan tersebut seakan memang diciptakan bagi pengunjung yang mencintai budaya dan sejarah Betawi. Beberapa koleksi yang ada di dalam ruangan tersebut datang dari sumbangan pemerintah daerah yang membukukan beragam aspek soal Jakarta.

Tidak hanya buku dari pemerintah daerah, ada pula beberapa buku asing yang menghiasi rak-rak buku ruangan tersebut. Di antaranya adalah Gereja-Gereja Bersejarah di Jakarta karya Adolf Heuken Sj dan Batavia in Nineteenth Century Photographs karya Scott Merrillees.

Syahmiranti mengatakan, buku-buku khusus Jakarta memang susah untuk didapatkan. ”Tidak semua penerbit itu menerbitkan buku tentang Jakarta,” ucapnya. Selain itu, buku-buku yang ada di perpumda ini kebanyakan didapatkan dari pengadaan dana APBD Provinsi DKI Jakarta.

Salah seorang pengunjung ruang khusus DKI Jakarta, Diah Afrilian (18 tahun), menilai banyak buku lama yang masih dalam kondisi baik. Diah berkunjung ke perpumda untuk mengerjakan tugas dari kampus. ”Referensi buku lebih banyak di sini. Kondisi bukunya terbilang bagus dan lengkap. Dari tahun-tahun lama edisinya masih ada dan masih layak baca,” ujarnya.

Untuk perawatan, Syahmiranti mengatakan, perpustakaan ini lebih sering melakukan perawatan harian. Setelah membersihkan debu-debu yang menempel di buku, lalu buku-buku itu disusun sesuai dengan rak yang tersedia. ”Ditambah di awal tahun ini kami sedang stock opname. Waktu menghitung ulang koleksi itu kami juga melakukan penyiangan terhadap buku-buku tersebut,” jelasnya.

Tidak hanya ruang koleksi bernuansa Jakarta saja yang dibangun Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah DKI Jakarta untuk melestarikan budaya Betawi. Syahmiranti mengatakan, sudah sejak lama ada kegiatan yang berhubungan dengan identitas Betawi.

”Kami ada program Abang None Buku, semacam ajang pemilihan duta buku yang dapat memasyarakatkan dan meningkatkan minat baca warga Jakarta,” kata Syahmiranti.

Ruang khusus DKI Jakarta sebenarnya tidak hanya di perpumda ini saja. Di Perpumda Jakarta Selatan pun ada ruangan yang menyerupai pojok koleksi khusus Betawi.

Perbedaan desain dan koleksi memang terlihat jelas. Bila dibandingkan, koleksi khusus Jakarta lebih lengkap di Perpumda DKI Jakarta yang   terletak di Gedung Nyi Ageng Serang daripada di Perpumda Jakarta Selatan.

Tentang Penulis: Dunia Perpustakaan

DuniaPerpustakaan.com merupakan salah satu portal berita dan informasi yang dimiliki CV Dunia Perpustakaan GROUP yang berisi terkait dengan semua informasi bidang ilmu perpustakaan. Didalamnya membahas terkait dengan Software Perpustakaan, Lowongan Kerja untuk Pustakawan, Profile Perpustakaan di dalam negeri dan luar negeri, Sosok Inspirasi terkait Pustakawan dan pejuang literasi, dll

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar