Home / Artikel Perpustakaan / Minat Baca Rendah, Tapi Cerewet Banget! Itulah Netizen Indonesia?
Sudah minat baca rendah, tapi di sosial media cerewet banget, harusnya kan malu?

Minat Baca Rendah, Tapi Cerewet Banget! Itulah Netizen Indonesia?

Ingin publikasi GRATIS kegiatan perpustakaan, TBM, sudut baca, dan aktivis kegiatan literasi lainya, Artikel, Makalah, dll segera hubungi kami DISINI!

Khusus pegiat literasi dan pustakawan yang ingin punya akun khusus disini, segera hubungi WhatsApp kami: 08586 8080 173

Minat Baca Rendah, Tapi Cerewet Banget! Itulah Netizen Indonesia?

Dunia Perpustakaan | Biasanya kalau di zaman dahulu, mereka-mereka yang masih punya sedikit ilmu karena belum banyak baca buku, biasanya orangnya itu lebih banyak diem dan malu untuk bicara.

Alasanya sederhana, takut kalau-kalau apa yang dibicarakan itu salah dan tidak tepat.

Namun coba lihat di sosial media kita hari ini?

Bermula dari ungkapan netizen yang menjadi viral di media sosial, dimana dalam screenshot yang beredar berbunyi,

“Menurut UNESCO, minat baca orang Indonesia hanya 0,001! Indonesia berada di urutan ke-2 dari bawah dalam hal keliterasian dunia, di bawah Botswana.

Tapi lebih dari 60 juta penduduk Indonesia punya gadget, yang menjadikan Indonesia urutan ke-5 terbanyak dalam hal kepemilikan smartphone.

Namun yang menarik, meski minat baca rendah, tapi dalam hal “kecerewetan” di sosial media, penduduk Indonesia berada di urutan ke-5 sebagai negara paling cerewet di dunia. Sedangkan Jakarta adalah kota paling cerewet di dunia maya karena setiap detik ada 15 tweet.

Dari data dan fakta diatas, anda bisa membayangkan, Tidak suka baca tapi bisa jadi penduduk paling cerewet? Jadi jangan heran jika negara Indonesia menjadi konsumen yang empuk untuk info provokasi, hoax dan Fitnah!

Apakah anda termasuk konsumen dari info-info hoax tersebut, atau justru yang paling sering like dan share hoax tersebut?”

Dari tulisan tersebut diatas, mari kita buktikan, apakah data-data yang disebut diatas hoax, fitnah, atau hanya karangan tanpa dasar yang jelas?

Terkait dengan penyebutan bahwa “Indonesia berada di urutan ke-2 dari bawah dalam hal keliterasian dunia, di bawah Botswana.”

Pada bulan Agustus 2016 yang lalu, kami sudah mempublikasikan terkait data tersebut melalui tulisan berjudul “Miris! Minat Baca Indonesia Diurutan ke 60 dari 61 Negara!“. Pemberitaan tersebut kami kutip dari sumber terpercaya kompas.

Dan terkait dengan data bahwa Jakarta adalah kota dengan jumlah tweet terbanyak di dunia itu juga benar adanya. Data tersebut diambil dari semiocast.com, dimana website tersebut memang mendata terkait aktivitas sosial media termasuk twitter. Anda bisa membaca lengkapnya disini.

Dari data-data tersebut diatas tentunya kita meyakini bahwa apa yang tertulis diatas, semunya adalah kebenaran berdasarkan data dan fakta.

Perlu anda catat juga bahwa data tersebut baru menyebutkan di twitter saja, jadi bisa dibayangkan kalau datanya ditambahkan dengan data dari aktifitas di facebook dan media sosial lainya, bisa-bisa makin cerewet lagi kita?

Bahkan jika anda ingin membuktikan sendiri, silahkan anda bisa melihat data dan fakta di sekitar anda. Kita pasti akan sulit menemukan orang membaca, tapi begitu buka akun media sosial, kita menemukan di setiap detiknya, banyak teman-teman kita yang begitu “CEREWET” update status di berbagai sosial media.

Semoga saja dari data-data tersebut diatas, kita bisa menjadikan hal tersebut sebagai WARNING dan kehati-hatian kita saat beraktifitas di sosial media.

About Dunia Perpustakaan

DuniaPerpustakaan.com merupakan salah satu portal berita dan informasi yang dimiliki CV DP GROUP yang berisi terkait dengan semua informasi bidang ilmu perpustakaan. Didalamnya membahas terkait dengan Software Perpustakaan, Lowongan Kerja untuk Pustakawan, Profile Perpustakaan di dalam negeri dan luar negeri, Sosok Inspirasi terkait Pustakawan dan pejuang literasi, dll

One comment

  1. Penyakit pemamah hoax hari ini adalah menganggap facebook sebagai sumber utama informasi. Padahal web terbuka luas, banyak bacaan dan literatur bermutu. Sementara itu algoritma facebook secara halus menyuruh kita membaca berita-berita yang hanya kita suka, berdasarkan like dan commenct kawan fb, ya seperti di dalam tempurung.

    Nah, ada baiknya kita juga memberhentikan budaya malas membuka link hanya karena berita tersebut tidak kita sukai, atau tidak ingin traffic web tersebut naik. Adalah logika yang malah akan hanya membuat permasalahan semakin tidak jelas. Padahal setelah membaca kita bisa menambahkan komen pada situs web tersebut.

    Panjang umur membaca 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *