Site icon Dunia Perpustakaan

IRAN: Riset, Literasi, dan Harga Diri Bangsa!

IRAN: Riset, Literasi, dan Harga Diri Bangsa!

Dunia Perpustakaan | Kalau saya jujur, sebelum bicara soal pendidikan, riset, dan perpustakaan, kita harus mulai dari satu hal yang paling mendasar: harga diri sebuah bangsa.

Harga Diri Bangsa Iran

Iran adalah contoh yang menurut saya sangat jelas. Mereka berulang kali membuka ruang dialog dengan siapa pun, bahkan dalam situasi penuh tekanan dan kecurigaan. Dalam banyak kesempatan, mereka tetap memilih jalur diplomasi, meski berkali-kali merasa dikhianati. Bahkan dalam momen-momen terakhir sebelum konflik memanas, posisi Iran masih berada dalam jalur dialog untuk mencari solusi damai.

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Serangan tetap datang. Pemimpin dan tokoh militer mereka menjadi target. Dan di titik itulah sikap Iran menjadi sangat tegas.

Menurut saya, ini bukan sekadar strategi politik atau militer. Ini adalah pernyataan harga diri sebuah bangsa yang merasa merdeka dan berdaulat.

Bayangkan, negara yang tidak sebesar kekuatan global, tapi berani berdiri tegak menghadapi tekanan dari negara-negara besar. Ini bukan soal kuat atau lemah. Ini soal sikap, wibawa, dan keyakinan bahwa mereka tidak bisa diatur oleh bangsa lain.

Dan di sinilah saya melihat benang merah yang sangat penting.

Keberanian itu lahir dari fondasi yang dibangun sangat lama: pendidikan, literasi, riset, dan karakter bangsa.

Kalau kita masuk ke data, kita akan melihat gambaran yang jauh lebih utuh.

Iran adalah negara yang puluhan tahun hidup di bawah embargo. Secara logika, negara seperti ini seharusnya runtuh. Tapi yang terjadi justru sebaliknya—mereka tetap bertahan, bahkan berkembang.

Menurut saya, jawabannya sederhana: mereka membangun manusia, bukan sekadar sistem.

Riset, Pendidikan, dan Literasi

Data menunjukkan pendidikan di Iran terus berkembang meski dalam tekanan. Jumlah mahasiswa meningkat dan literasi terus membaik. Ini menunjukkan bahwa negara tidak menyerah pada keadaan, tapi justru memperkuat akar SDM-nya.

Hasilnya terlihat nyata.

Iran menempati peringkat ke-4 dunia dalam IQ rata-rata sekitar 104,8. Menurut saya, ini bukan kebetulan. Ini hasil dari ekosistem belajar yang hidup.

Lalu kita lihat dari sisi akses ilmu.

Iran memiliki ribuan perpustakaan publik dan fasilitas pengetahuan yang terbuka luas.
Artinya, ilmu tidak dimonopoli elite, tapi didistribusikan ke masyarakat.

Dan yang lebih menarik lagi, budaya intelektual ini juga terlihat di level elite.

Untuk menjadi anggota parlemen, minimal harus bergelar S2.
Artinya, negara memastikan bahwa yang membuat kebijakan adalah orang-orang yang punya kapasitas berpikir.

Menurut saya, ini sangat penting.
Karena arah sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kualitas orang yang memimpinnya.

Kemudian kita lihat hasil akhirnya.

Iran mampu mengembangkan teknologi secara mandiri, termasuk di bidang strategis.
Ini bukan karena mereka tidak ditekan, tapi justru karena mereka dipaksa untuk mandiri.

Dan sekali lagi, ini hanya mungkin terjadi jika SDM-nya kuat.

Namun ada satu lapisan lagi yang menurut saya sangat menentukan—dan sering tidak dibahas.

Integritas dan Kesederhanaan Elite Bangsa Iran

Budaya hidup sederhana di kalangan pejabat Iran sangat kuat.
Tidak ada ruang untuk pamer kekayaan atau hidup hedon. Mereka sadar bahwa jabatan adalah amanah, dan setiap harta akan dimintai pertanggungjawaban.

Menurut saya, ini adalah fondasi moral yang menjaga arah negara tetap lurus.

Ketika pemimpin:

…maka kebijakan yang lahir pun akan berpihak pada kepentingan jangka panjang.

Dan di sinilah semua benang merah itu bertemu.

Hasilnya adalah sebuah bangsa yang tidak mudah ditekan.

Bangsa Indonesia Mau Dibawa Kemana?

Sekarang mari kita bercermin.

Kita tidak diembargo. Tidak disanksi. Tidak ditekan.

Tapi apakah kita sudah: Serius membangun literasi? menjadikan perpustakaan sebagai pusat peradaban? memastikan pemimpin punya kapasitas dan integritas?

Atau justru sebaliknya?

Menurut saya, di sinilah letak ironi terbesar kita.

Kalau negara yang ditekan saja bisa bangkit dengan ilmu dan harga diri, maka pertanyaan paling jujur untuk kita adalah:

Apakah kita benar-benar ingin menjadi bangsa yang berdaulat, atau hanya sekadar terlihat berdaulat tapi tak punya martabat dan wibawa bangsa yang merdeka?


Exit mobile version