Site icon Dunia Perpustakaan

Pustakawan: Pejuang Literasi atau Pejuang Profesi?

Pustakawan Pejuang Profesi atau Pejuang Literasi

Dunia Perpustakaan | Di dunia perpustakaan, ada satu hal yang menurut saya mulai perlu dibahas secara jujur dan terbuka. Karena kalau terus disembunyikan di balik seminar, slogan, dan kegiatan seremonial, maka dunia literasi akan terus berjalan di tempat.

Hari ini, kita sering melihat ada sebagian pustakawan yang tampil seolah menjadi pejuang nasib masyarakat yang buta huruf, malas membaca, dan tertinggal secara literasi. Mereka berbicara tentang pentingnya budaya baca, Mereka menyerukan perjuangan literasi di berbagai forum. Mereka mengajak masyarakat untuk peduli terhadap pendidikan dan pengetahuan.

Tetapi ironisnya, dalam praktiknya tidak sedikit program literasi yang justru dibuat secara asal-asalan, minim dampak nyata, dan hanya menghabiskan anggaran besar. Ada kegiatan yang ramai spanduk, ramai dokumentasi, ramai seminar, tetapi setelah acara selesai, masyarakat tetap tidak berubah. Minat baca tetap rendah. Perpustakaan tetap sepi. Dan literasi hanya menjadi bahan laporan tahunan.

Yang lebih memprihatinkan, sebagian oknum justru terlihat lebih fokus mencari keuntungan pribadi, membangun citra diri, mengejar proyek, honor kegiatan, perjalanan dinas, angka kredit, hingga kepentingan karir profesi atas nama literasi.

Tentu saya tidak mengatakan semua seperti itu. Masih banyak yang benar-benar bekerja dengan tulus dan penuh pengabdian. Bahkan banyak di antara mereka bergerak diam-diam tanpa sorotan dan tanpa fasilitas besar.

Namun jujur saja, kita juga tidak bisa menutup mata bahwa sebagian memang demikian. Dan menurut saya, inilah salah satu alasan kenapa gerakan literasi di Indonesia sering terlihat ramai di permukaan tetapi minim perubahan nyata di masyarakat.

Pustakawan yang Fokus Mengejar Karir

Saya melihat cukup banyak pustakawan yang orientasi utamanya lebih fokus pada karir birokrasi dan profesi.

Yang sering dibicarakan biasanya seputar: angka kredit, kenaikan jabatan, sertifikasi, tunjangan, pelatihan formal, hingga urusan administratif kepegawaian.

Tidak salah.

Karena setiap orang memang berhak memikirkan masa depan dan kesejahteraannya.

Tetapi masalah mulai muncul ketika profesi pustakawan akhirnya hanya dipandang sebagai pekerjaan administratif untuk mengejar status dan jabatan. Akibatnya, banyak kegiatan literasi yang akhirnya terasa formalitas. Ada kegiatan yang dibuat hanya demi laporan. Selain itu, ada program yang dijalankan hanya untuk memenuhi penilaian. Ada seminar yang ramai dokumentasi tetapi minim dampak nyata bagi masyarakat.

Bahkan kadang ada juga yang lebih sibuk memikirkan cara mendapatkan angka kredit dibanding memikirkan bagaimana membuat masyarakat benar-benar tertarik membaca.

Menurut saya, inilah salah satu penyebab kenapa banyak perpustakaan sulit berkembang.

Karena energi terbesar justru habis untuk mengurus sistem birokrasi profesi, bukan untuk memperjuangkan budaya literasi.

Pustakawan yang Berjuang karena Kepedulian Literasi

Di sisi lain, ada juga pustakawan yang bergerak bukan karena jabatan, tetapi karena rasa peduli.

Biasanya kelompok ini justru sering bekerja tanpa sorotan.

Mereka: membuat taman baca kecil, mendatangi desa, membuka kelas membaca gratis, mengajar literasi digital, membuat konten edukasi, bahkan membeli buku dengan uang pribadi.

Mereka bergerak karena merasa prihatin melihat rendahnya budaya baca masyarakat.

Kadang mereka tidak punya jabatan tinggi. Kadang juga tidak punya fasilitas besar. Tetapi dampaknya justru terasa langsung.

Menurut saya, yang seperti inilah yang sebenarnya menjaga nyala literasi di Indonesia. Karena mereka bergerak bukan demi sertifikat, tetapi karena memiliki keresahan. Mereka sadar bahwa literasi bukan sekadar program kerja tahunan. Literasi adalah perjuangan jangka panjang untuk mengubah cara berpikir masyarakat.

Ketika Literasi Hanya Menjadi Slogan

Yang paling menyedihkan menurut saya adalah ketika kata “literasi” sekarang mulai terlalu sering dipakai sebagai slogan.

Semua orang bicara literasi. Semua lembaga membuat acara literasi. Tetapi di lapangan, minat baca masyarakat tidak berubah signifikan.

Kenapa?

Karena sebagian kegiatan literasi lebih sibuk mengejar seremoni dibanding substansi. Foto kegiatan lebih penting daripada dampaknya. Spanduk lebih ramai daripada isi programnya. Laporan lebih tebal daripada perubahan yang dihasilkan.

Dan jujur saja, masyarakat sebenarnya bisa merasakan mana gerakan yang benar-benar tulus dan mana yang hanya formalitas.

Dunia Pustakawan Terlalu Sibuk dengan Sesama Pustakawan

Menurut saya, masalah lain yang cukup serius adalah banyak kegiatan perpustakaan justru hanya berputar di kalangan pustakawan sendiri.

Tetapi masyarakat umum justru sering tidak tersentuh. Akibatnya, dunia perpustakaan menjadi terasa eksklusif dan jauh dari realita masyarakat. Padahal seharusnya pustakawan hadir di tengah masyarakat.

Harus dekat dengan: anak muda, petani, pelaku UMKM, masyarakat desa, hingga pengguna media sosial.

Karena tantangan literasi hari ini bukan hanya soal kemampuan membaca buku. Tetapi juga soal kemampuan memahami informasi, melawan hoaks, berpikir kritis, dan menggunakan teknologi secara bijak.

Pustakawan yang Benar-Benar Peduli Biasanya Tidak Banyak Bicara

Ini yang menarik. Saya justru melihat banyak pejuang literasi sejati tidak terlalu sibuk membangun citra diri. Mereka lebih banyak bekerja dibanding berbicara. Bahkan ada yang tetap bergerak meski tidak mendapat penghargaan apa pun. Mereka sadar bahwa perubahan budaya baca tidak bisa dibangun hanya lewat seminar mewah atau pidato motivasi. Tetapi harus dibangun lewat kerja nyata yang konsisten.

Dan sayangnya, tipe pustakawan seperti ini sering kalah populer dibanding mereka yang aktif tampil di acara formal.

Profesi Pustakawan Sedang Mengalami Krisis Arah

Menurut saya, inilah isu terbesar pustakawan hari ini. Bukan soal kurangnya gedung. Bukan soal minimnya koleksi. Tetapi soal hilangnya arah perjuangan.

Apakah pustakawan ingin dikenal hanya sebagai profesi birokrasi? Atau ingin benar-benar menjadi penggerak perubahan masyarakat?

Karena dua jalan itu sangat berbeda.

Kalau pustakawan hanya sibuk mengejar karir internal profesi, maka perpustakaan akan semakin jauh dari masyarakat. Tetapi kalau pustakawan benar-benar fokus pada perjuangan literasi, maka perpustakaan bisa kembali relevan dan dibutuhkan.

Penutup

Menurut saya, pustakawan terbaik bukanlah yang paling banyak sertifikatnya. Bukan juga yang paling sering tampil di seminar. Tetapi pustakawan yang benar-benar mampu membuat masyarakat lebih sadar pentingnya ilmu pengetahuan.

Karena pada akhirnya, masyarakat tidak terlalu peduli siapa yang naik jabatan. Masyarakat hanya ingin merasakan manfaat nyata dari hadirnya perpustakaan dan pustakawan.

Dan mungkin inilah pertanyaan paling penting untuk direnungkan dunia pustakawan hari ini:

Oleh karena itu, diperlukan perubahan cara pandang dalam dunia perpustakaan agar gerakan literasi tidak berhenti pada kegiatan formalitas semata. Pustakawan perlu lebih didorong untuk membangun kedekatan dengan masyarakat, memanfaatkan teknologi digital secara kreatif, serta menghadirkan program literasi yang benar-benar berdampak. Selain itu, institusi perpustakaan juga perlu memberikan ruang yang lebih besar bagi pustakawan yang aktif melakukan pengabdian sosial di bidang literasi. Dengan demikian, perpustakaan tidak hanya menjadi pusat administrasi pengetahuan, tetapi juga menjadi pusat perubahan sosial yang relevan dengan kebutuhan masyarakat modern.

Daftar Pustaka


Exit mobile version