Site icon Dunia Perpustakaan

Gila! Buku Kuno dan Langka Dibeli, Dipindai, Lalu Dihancurkan!

Gila! Buku Kuno dan Langka Dibeli, Dipindai, Lalu Dihancurkan!

Dunia PerpustakaanAda berita yang seharusnya membuat dunia perpustakaan berhenti sejenak.

Bukan karena munculnya teknologi baru. Bukan karena kecerdasan buatan semakin pintar.

Tetapi karena sesuatu yang selama berabad-abad kita anggap sebagai penjaga ilmu pengetahuan manusia kini dilaporkan diperlakukan sebagai bahan baku industri AI.

Buku dibeli. Buku dipotong. Halaman-halamannya dipindai. Informasinya diubah menjadi data. Kemudian buku fisiknya dihancurkan.

Yang lebih membuat geram, laporan terbaru tidak hanya berbicara tentang buku biasa. Buku-buku lama, langka, dan sulit ditemukan ikut diburu.

Kalau buku hanya dianggap sebagai benda yang boleh dibuang setelah informasinya diambil, kita perlu berhenti dan bertanya:

Apakah kita sedang menyelamatkan pengetahuan melalui AI, atau justru mempertaruhkan sumber pengetahuan manusia demi membuat AI semakin pintar?

Pertanyaan ini bukan lagi teori.

Kasusnya sudah muncul dalam dokumen pengadilan, investigasi media, laporan penjual buku, dan kini bahkan memicu desakan kepada regulator Amerika Serikat.

Semua Berawal dari Buku Perusahaan AI membutuhkan data. Bukan sedikit.

Model AI modern membutuhkan data dalam jumlah sangat besar untuk mempelajari bahasa, pengetahuan, pola berpikir, sejarah, argumentasi, dan berbagai bentuk tulisan manusia.

Di tengah membanjirnya konten internet yang semakin banyak dibuat atau dibantu AI, buku-buku lama menjadi semakin menarik.

Buku-buku tersebut lahir sebelum ledakan besar konten generatif AI.

Karena itu, perusahaan AI melihat nilai yang sangat besar pada koleksi buku lama yang masih berada dalam bentuk fisik.

Sebuah perusahaan bahkan secara terbuka menawarkan jasa memperoleh buku cetak untuk perusahaan AI.

Dalam laporan 404 Media, perusahaan ISBNdb pernah memasarkan layanan untuk memperoleh buku fisik dalam jumlah besar bagi kebutuhan data AI. Perusahaan tersebut bahkan mengakui bahwa “optics problem is real” terkait praktik tersebut.

Masalahnya kemudian berkembang jauh lebih besar.

Buku tidak hanya dibeli. Buku dihancurkan setelah dipindai.

Ada sesuatu yang terasa paradoks dalam perlombaan kecerdasan buatan saat ini.

Perusahaan teknologi mengembangkan mesin yang diklaim mampu menyimpan dan memahami pengetahuan manusia dalam skala yang belum pernah terjadi. Namun untuk membuat mesin tersebut semakin pintar, sejumlah perusahaan justru dilaporkan membeli buku-buku fisik dalam jumlah besar, memindainya, kemudian menghancurkan bentuk aslinya.

Persoalannya menjadi jauh lebih mengkhawatirkan karena sebagian buku yang menjadi sasaran bukan sekadar buku baru yang mudah ditemukan di toko.

Buku lama, buku langka, dan berbagai edisi yang sulit ditemukan kembali ikut masuk dalam radar pengumpulan data.

Pertanyaannya kemudian bukan lagi sekadar, apakah AI boleh belajar dari buku.

Pertanyaan yang lebih besar adalah:

Apa yang terjadi ketika buku sebagai sumber pengetahuan dihancurkan setelah pengetahuannya dipindahkan ke mesin?

Project Panama: jutaan buku dibeli untuk dipindai dan dihancurkan

Kasus ini pertama kali mendapat perhatian luas melalui terungkapnya proyek rahasia Anthropic yang dikenal sebagai “Project Panama”.

Menurut dokumen pengadilan yang kemudian dibuka untuk publik, Anthropic pada 2024 menjalankan proyek untuk memperoleh buku dalam jumlah sangat besar, melakukan pemindaian secara destruktif, kemudian menggunakan hasil digitalnya dalam pengembangan model AI.

The Washington Post melaporkan bahwa Anthropic membeli jutaan buku bekas melalui sejumlah penjual, kemudian menggunakan proses industri yang antara lain melibatkan pemotongan bagian punggung buku agar halaman dapat dipindai dengan cepat.

Dokumen internal proyek tersebut bahkan menggambarkan ambisi untuk “destructively scan all the books in the world.”

Kalimat tersebut menjadi salah satu bagian paling mengejutkan dari kasus ini.

Sebab yang sedang dibicarakan bukan lagi digitalisasi beberapa ribu buku.

Yang dibayangkan adalah digitalisasi buku dalam skala yang sangat besar.

Dan metode yang digunakan bersifat destruktif.

Mengapa perusahaan AI membutuhkan buku lama yang Asli?

Jawabannya sederhana: “data berkualitas.”

Model bahasa membutuhkan data dalam jumlah sangat besar untuk mempelajari pola bahasa, struktur kalimat, pengetahuan, argumentasi, sejarah, dan berbagai bentuk ekspresi manusia.

Buku mempunyai keunggulan dibandingkan sebagian besar konten internet.

Buku biasanya memiliki struktur panjang, penyuntingan profesional, konsistensi bahasa, serta kandungan pengetahuan yang lebih terkurasi.

Ada alasan lain yang semakin penting.

Ledakan konten buatan AI membuat perusahaan AI menghadapi persoalan baru: semakin banyak data internet yang tersedia berpotensi telah dipengaruhi atau bahkan dibuat oleh AI.

Buku yang diterbitkan sebelum era ledakan AI menjadi semakin menarik sebagai sumber data yang berasal dari manusia.

Dengan kata lain:

Buku lama menjadi bahan bakar baru dalam perlombaan kecerdasan buatan.

Dari Anthropic, kini jejaknya mengarah ke Amazon

Perkembangan terbaru membuat kasus ini semakin menarik.

Investigasi 404 Media yang diberitakan sejumlah media teknologi menemukan indikasi bahwa Amazon juga menjalankan operasi pengumpulan dan pemindaian buku dalam skala besar untuk kebutuhan AI.

Dalam investigasi tersebut, sebuah penjual buku mencurigai pesanan anonim sekitar 1.000 buku mungkin berkaitan dengan pengumpulan data AI. Penjual tersebut memasukkan perangkat pelacak ke salah satu buku.

Buku itu kemudian dilacak hingga fasilitas Amazon di kawasan Las Vegas yang dikenal sebagai VGT3. Menurut laporan investigasi, pekerja di fasilitas tersebut melakukan pekerjaan memotong bagian punggung buku dan memindai halaman.

Temuan tersebut menjadi perhatian karena Amazon memiliki sejarah yang sangat erat dengan buku.

Perusahaan yang pada awalnya dikenal luas sebagai toko buku online tersebut kini justru dikaitkan dengan operasi yang menyebabkan buku fisik kehilangan bentuk aslinya setelah dipindai untuk kebutuhan AI.

Namun perlu ditegaskan, laporan tersebut merupakan hasil investigasi media dan informasi dari sumber yang diwawancarai. Tidak semua detail mengenai tujuan akhir setiap buku dapat diverifikasi secara independen.

Mengapa buku langka menjadi persoalan serius?

Digitalisasi pada dasarnya bukan sesuatu yang buruk.

Sebaliknya, perpustakaan di seluruh dunia melakukan digitalisasi untuk menyelamatkan koleksi yang rentan rusak.

Masalahnya adalah, apa yang terjadi setelah digitalisasi tersebut dilakukan secara destruktif.

Jika sebuah buku masih tersedia dalam jutaan eksemplar, penghancuran satu salinan mungkin tidak menimbulkan persoalan besar.

Tetapi bagaimana jika buku tersebut hanya tersisa beberapa eksemplar?

Bagaimana jika merupakan edisi pertama?

Solusinya Bagaimana jika sudah tidak diterbitkan?

Bagaimana jika merupakan dokumentasi sejarah lokal?

Bagaimana jika hanya tersisa satu salinan di dunia?

Di titik tersebut, tindakan memotong dan menghancurkan buku bukan lagi sekadar proses teknis.

Ia menyentuh persoalan “preservasi warisan pengetahuan manusia.”

The Guardian mencatat bahwa muncul kekhawatiran di kalangan penjual buku bekas dan buku langka mengenai pembelian dalam jumlah besar oleh pihak yang diduga berkaitan dengan kebutuhan AI. Beberapa penjual di Inggris dan Irlandia melaporkan pesanan yang tidak biasa, termasuk judul-judul yang sangat spesifik dan sulit ditemukan.

Buku menjadi data, tetapi siapa yang memiliki datanya?

Di sinilah persoalan mulai bergerak keluar dari isu teknologi.

Bayangkan sebuah buku tua.

Buku tersebut dibeli.

Halaman-halamannya dipindai.

Kemudian buku fisiknya dihancurkan.

Yang tersisa adalah salinan digital.

Tetapi salinan digital tersebut tidak otomatis menjadi milik masyarakat.

Ia dapat menjadi bagian dari sistem penyimpanan dan pengembangan teknologi milik perusahaan.

Muncul pertanyaan yang sangat mendasar:

Siapa yang menguasai salinan digital tersebut?

Pihak Siapa yang menentukan siapa yang boleh mengaksesnya?

Siapa yang menentukan bagaimana informasi tersebut digunakan?

Dan siapa yang dapat memastikan bahwa salinan digital tersebut selalu identik dengan sumber aslinya?

Pertanyaan terakhir menjadi sangat penting.

Sebab buku fisik memiliki karakter sebagai “sumber independen yang dapat diperiksa kembali

Jika buku sudah dihancurkan dan hanya tersisa salinan digital yang berada dalam kendali pihak tertentu, masyarakat kehilangan salah satu bentuk pembanding terhadap sumber tersebut.

Ini bukan tuduhan bahwa perusahaan AI telah memanipulasi isi buku.

Tidak ada bukti yang menunjukkan hal tersebut.

Namun dari perspektif preservasi pengetahuan, hilangnya sumber fisik tetap merupakan persoalan yang layak diperdebatkan.

Pengadilan AS membuka ruang hukum baru

Kasus Anthropic juga memiliki dimensi hukum yang penting.

Pada Juni 2025, Hakim William Alsup memutus bahwa penggunaan buku yang diperoleh secara legal untuk melatih AI Anthropic dapat termasuk *fair use* berdasarkan hukum hak cipta Amerika Serikat. Namun putusan yang sama tidak membenarkan penggunaan buku yang diperoleh secara ilegal dari sumber bajakan.

Dengan demikian, penting untuk tidak menyederhanakan putusan tersebut menjadi:

“Pengadilan melegalkan penghancuran buku.”

Yang diputus adalah persoalan hukum mengenai penggunaan dan penyalinan karya berhak cipta dalam konteks tertentu.

Perbedaannya sangat penting.

Namun konsekuensi praktisnya tetap menarik.

Jika membeli buku secara legal, memindainya, lalu membuat salinan digital untuk kebutuhan tertentu dianggap berada dalam koridor *fair use*, maka secara hukum terbuka kemungkinan bagi perusahaan teknologi melakukan digitalisasi dalam skala sangat besar.

Dan ketika proses digitalisasi tersebut dilakukan secara destruktif, muncullah persoalan yang tidak sepenuhnya dijawab oleh hukum hak cipta:

Apakah sesuatu yang legal secara hukum selalu tepat secara etika dan preservasi budaya?

Anthropic kemudian membayar US$1,5 miliar

Kasus Anthropic tidak berhenti pada persoalan buku yang dibeli secara legal.

Perusahaan tersebut juga menghadapi perkara terkait penggunaan jutaan buku yang diperoleh dari sumber yang tidak sah.

Pada Juli 2026, pengadilan AS menyetujui penyelesaian senilai sekitar **US$1,5 miliar** antara Anthropic dan para penulis serta pemegang hak. Reuters melaporkan bahwa lebih dari 91 persen penulis dan penerbit yang tercakup dalam penyelesaian tersebut telah mengajukan klaim.

Departemen Kehakiman AS juga mencatat bahwa perkara Anthropic menjadi salah satu kasus penting dalam perkembangan hukum mengenai penggunaan materi berhak cipta untuk melatih AI. Dalam perkara tersebut, pengadilan membedakan antara penggunaan materi untuk pelatihan dan cara materi tersebut diperoleh.

Dengan demikian, kasus ini memperlihatkan satu persoalan besar:

Hukum mulai mengejar teknologi yang bergerak jauh lebih cepat daripada regulasi.

Ini bukan hanya persoalan copyright

Perdebatan selama ini banyak berkutat pada satu pertanyaan:

Apakah perusahaan AI harus membayar pemilik hak cipta ketika menggunakan buku untuk melatih model?

Pertanyaan itu penting.

Tetapi ada pertanyaan lain yang jauh lebih jarang dibicarakan:

Apa yang terjadi terhadap buku fisik setelah pengetahuannya dipindahkan ke AI?

Perpustakaan memiliki paradigma yang berbeda.

Ketika perpustakaan melakukan digitalisasi, tujuannya idealnya adalah menjaga pengetahuan agar dapat bertahan melampaui usia benda fisiknya.

Tetapi dalam model destruktif, buku fisik menjadi semacam **bahan baku sekali pakai**.

Buku dibeli.

Informasi diekstraksi.

Data disimpan.

Buku dibuang.

Dari perspektif industri AI, proses tersebut mungkin sangat efisien.

Tetapi dari perspektif preservasi, ada sesuatu yang hilang:

Sumber aslinya.

Apakah kita sedang menyaksikan perlombaan menguasai pengetahuan?

Di sinilah persoalan menjadi lebih besar.

Perusahaan AI membutuhkan data.

Semakin bagus datanya, semakin besar potensi model yang mereka bangun.

Buku menyediakan pengetahuan.

Perusahaan membeli buku.

Buku dipindai.

Pengetahuan masuk ke sistem digital.

Jika proses tersebut berlangsung dalam skala yang sangat besar dan hanya beberapa perusahaan yang memiliki kemampuan komputasi serta akses terhadap kumpulan data tersebut, maka konsentrasi pengetahuan menjadi sesuatu yang patut diperhatikan.

Bukan berarti perusahaan tersebut otomatis memiliki hak atas seluruh pengetahuan manusia.

Bukan pula berarti telah terjadi monopoli pengetahuan.

Tetapi “potensi konsentrasi akses terhadap representasi digital pengetahuan” merupakan persoalan yang layak menjadi perhatian publik.

Sebab pengetahuan bukan sekadar komoditas.

Pengetahuan adalah fondasi pendidikan, penelitian, kebudayaan, dan peradaban.

Ironi terbesar: perusahaan AI membutuhkan buku, tetapi buku bisa menjadi korban AI

Ada ironi yang sulit diabaikan.

Selama berabad-abad, manusia membangun perpustakaan untuk menyelamatkan pengetahuan dari kehancuran.

Kini, di tengah revolusi AI, sebagian buku justru diperlakukan sebagai bahan baku untuk membangun mesin yang mampu membaca dan menghasilkan pengetahuan.

Buku diubah menjadi data.

Data diubah menjadi model.

Model menghasilkan jawaban.

Dan masyarakat kemudian bertanya kepada mesin mengenai masa lalu.

Tetapi jika sumber fisiknya telah hilang, kita harus memastikan bahwa “jawaban mesin tidak menjadi satu-satunya pintu menuju masa lalu.**

Sebab mesin dapat diperbarui.

Database dapat berubah.

Algoritma dapat berubah.

Model dapat berubah.

Perusahaan dapat berubah.

Tetapi sebuah buku fisik yang tersimpan dengan baik di perpustakaan dapat menjadi bukti yang relatif independen bahwa suatu teks memang pernah ada dalam bentuk tertentu.

Itulah nilai yang tidak boleh kita abaikan.

Dunia perpustakaan seharusnya mulai bertanya

Fenomena ini semestinya menjadi alarm bagi dunia perpustakaan.

Bukan alarm untuk memusuhi AI.

Justru sebaliknya.

AI dapat menjadi alat luar biasa untuk membantu perpustakaan melakukan katalogisasi, digitalisasi, preservasi, pencarian informasi, dan pelayanan kepada masyarakat.

Namun perpustakaan harus memastikan satu hal:

“AI tidak boleh menjadi alasan untuk menghilangkan sumber pengetahuan yang menjadi dasar AI itu sendiri.

Masyarakat membutuhkan arsip digital.

Tetapi masyarakat juga membutuhkan arsip fisik.

Masyarakat membutuhkan AI.

Tetapi masyarakat juga membutuhkan perpustakaan.

Dan yang paling penting:

“masyarakat membutuhkan lebih dari satu sumber untuk memverifikasi pengetahuan.”

Pertanyaan yang belum selesai

Kasus penghancuran buku untuk kebutuhan AI menyisakan pertanyaan yang jauh lebih besar daripada persoalan apakah sebuah perusahaan melanggar hak cipta.

Jika perusahaan teknologi dapat membeli jutaan buku, memindainya, dan menghancurkan bentuk fisiknya, siapa yang bertanggung jawab memastikan bahwa buku-buku langka tetap terlindungi?

Apabila sebagian besar pengetahuan lama akhirnya tersimpan dalam database perusahaan, siapa yang menjamin akses generasi mendatang?

Jika sebuah buku menjadi bagian dari model AI, bagaimana masyarakat dapat mengetahui dari mana jawaban AI berasal?

Dan jika suatu hari sumber fisik sudah tidak tersedia lagi, “siapa yang dapat memverifikasi bahwa mesin sedang menyampaikan pengetahuan sebagaimana sumber aslinya?”

Belum ada jawaban sederhana atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Tetapi satu hal sudah jelas.

Perlombaan membangun AI bukan hanya perlombaan membuat mesin semakin pintar.

Ini juga perlombaan mendapatkan bahan baku yang membuat mesin tersebut pintar.

Dan salah satu bahan baku terpentingnya ternyata masih berupa benda yang selama ribuan tahun menjadi simbol pengetahuan manusia: Buku!.

Kini dunia harus menentukan satu hal:

Apakah kita akan membiarkan buku hanya menjadi bahan bakar untuk membuat AI semakin pintar, atau tetap memastikan buku menjadi warisan pengetahuan yang dapat diverifikasi manusia untuk generasi yang akan datang?

**Catatan redaksi:**

Laporan mengenai Amazon berasal dari investigasi 404 Media yang dilaporkan ulang oleh sejumlah media. Informasi mengenai Project Panama Anthropic berasal dari dokumen perkara hukum yang telah dibuka untuk publik dan dilaporkan oleh The Washington Post. Istilah “penghancuran buku” dalam tulisan ini merujuk pada proses pemotongan/pembongkaran buku untuk pemindaian, bukan penghancuran seluruh isi pengetahuan yang terkandung di dalamnya. Tidak ada bukti dalam sumber yang kami gunakan bahwa perusahaan AI memanipulasi isi buku setelah digitalisasi atau bahwa hakim menerima suap terkait putusan tersebut.


Exit mobile version