Home / Berita Perpustakaan / Inilah Para Pejuang Literasi yang Diundang Presiden

Inilah Para Pejuang Literasi yang Diundang Presiden

Ingin publikasi GRATIS kegiatan perpustakaan, TBM, sudut baca, dan aktivis kegiatan literasi lainya, Artikel, Makalah, dll segera hubungi kami DISINI!

Khusus pegiat literasi dan pustakawan yang ingin punya akun khusus disini, segera hubungi WhatsApp kami: 08586 8080 173

Inilah Para Pejuang Literasi yang Diundang Presiden.

Dunia Perpustakaan | Dalam perayaan Hari Pendidikan Nasional, Presiden Jokowi mengundang para pegiat literasi yang berjuang tanpa pamrih perjuangkan budaya baca di berbagai daerah di Indonesia.

Diantara nama mereka sudah pernah kami publikasikan di pemberitaan duniaperpustakaan.com.

Mereka semua bukan termasuk kalangan akademisi seperti pengertian yang lazim dipahami. Namun, semangat mereka meningkatkan minat baca masyarakat diapresiasi Presiden.

Mereka adalah aktivis penggenjot minat baca. Yang menarik, profesi utama mereka bukanlah guru, dosen, pustakawan, apalagi profesor, mereka ternyata hanyalah masyarakat biasa seperti sopir angkot, sopir bemo, kuli bangunan, hingga tukang tambal ban.

Berikut beberapa Pejuang Literasi yang Diundang Presiden dikutip dari detik.com [2/5/2017]

#1. Robianto [Kuli Bangunan]

Robianto mengecat pedati bertenaga sepeda motor bebek itu dengan tulisan ‘Pustaka Bergerak Indonesia’. Warnanya didominasi hitam, ada replika kepala kerbau di atasnya, lengkap dengan atap ilalang. Di bawahnya, ada rak-rak ratusan buku, mulai dari komik manga, buku pelajaran sekolah, hingga buku agama.

“Saya Robianto dari Bayalangu, Gegesik, Kabupaten Cirebon,” kata pria usia 31 tahun di depan pedatinya yang terparkir di samping Kompleks Istana Kepresidenan, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Selasa (2/5/2017).

Robianto dan pedati pustakanya. Foto: Danu Damarjati-detikcom

Robianto sudah menggerakkan pedati ini sejak pertengahan 2015. “Aku kuli bangunan. Setelah bekerja, siang sampai sore saya mengedarkan ini. Ini tidak menghasilkan duit, malah kadang-kadang keluar duit,” ujarnya.

Pria beristri ini rela menjalankan aktivismenya ini karena sebuah motivasi. Dia tak ingin minat baca Indonesia dicap rendah oleh dunia, misalnya UNESCO.

“Aku ingin minat baca diperhatikan di Indonesia. Jangan seperti data UNESCO. Ternyata bukan minat baca yang jadi masalah, tapi sarana bacanya,” ujarnya.

Pedati ini dibangunnya dalam empat bulan pada tahun kemarin. Sebelumnya, Robianto biasa mengedarkan buku-buku menggunakan tas, berjalan kaki, keliling desa. Kini tak hanya desanya saja, namun ada 8 desa yang mampu dia kelilingi.

“Di mana ada tanah lebar, saya ada di situ. Saya panggil anak-anak dulu, bikin mereka nyaman. Buku dipinjam gratis nggak apa-apa,” kata dia.

Dia masih punya cita-cita untuk membuka kelas membaca untuk orang-orang tua, namun karena kendala tempat dan operasional, rencana itu belum terwujud.

Jokowi berkemeja batik kemudian menyambangi pedatinya.

#2. Pian Sopian [Sopir Angkot]

Angkot bernomor polisi D 1907 VP jurusan Soreang-Bandung ini disopiri oleh Pian Sopian (36). Sembari mencari penumpang, Pian berusaha menumbuhkan minat baca masyarakat. Penumpang yang terjebak macet bisa membaca buku yang tersedia di sisi belakang dalam angkot itu.

Pian Sopian dan Elis Ratna di depan angkotnya. Foto: Danu Damarjati-detikcom

“Dari jalur saya mah jalur macet. Sambil menunggu macet, penumpang bisa baca buku,” ujar Pian.

Anak-anak sekolah, buruh pabrik, dan ibu-ibu biasa menaiki angkotnya. Cara ini dijalankannya sejak 2016 lalu. Inspirasi justru datang dari istrinya sendiri yang merupakan pustakawati. Istrinya sudah enam tahun keliling kampung mengajar komputer, juga mengajari anak-anak membaca.

“Istri saya, Elis Ratna (25), adalah inspirasi saya, dia tanpa pamrih,” kata dia.

Ada sekitar 40 buku di dalam angkotnya. Namun, buku ini harus dibaca di tempat alias tidak boleh disewa bawa pulang. Bila mau pinjam buku atau menyumbang buku, masyarakat bisa ke perpustakaannya di rumah kontrakannya, Jl Ciluncat, Kecamatan Cangkuang, Perumahan Parken Blok A 11 Nomor 6, Kabupaten Bandung.

“Setelah saya ini, Pemerintah Kabupaten juga kemudian mengadakan angkot pintar,” kata dia.

#3. Sutino alias Kinong [Sopir Bemo]

Jokowi menyambangi bemo yang disopiri Sutino alias Kinong. Pria tua ini telah narik bemo sejak 1976. Bemonya digunakan untuk menarik penumpang pada pagi hari. Sore harinya, rak-rak berisi buku dipajang di bagian belakang.

Sutino alias Kinong pencetus Bemo Pustaka

“Saya keliling wilayah Tanah Abang dan Karet, nggak jauh dari rumah,” kata Kinong.

Ada dosen-dosen perguruan tinggi swasta yang membantu aktivitas Kinong. Maka sejak 2013, bemonya juga menjadi perpustakaan keliling. Pernah sekali waktu kendaraanya kena razia. Namun dia menyatakan bemo ini adalah peninggalan bersejarah dari era Presiden Sukarno.

“Hampir kena sweeping sama Dishub. Tapi Pak Jokowi mengatakan untuk tidak mengangkut Bemo karena mengandung sejarah. Akhirnya petugas Dishub tidak jadi sweeping,” kata dia.

#4. Sugeng Haryono [Tukang Tambal Ban]

Ada pula Sugeng Haryono (33), seorang tukang tambal ban yang menggerakan sepeda motornya sebagai perpustakaan. Dia namai sepeda motornya itu sebagai ‘Motor Pustaka’. Jokowi sempat menjajal duduk di atas motor itu.

“Ini motor apa?” tanya Jokowi.

Sugeng menjelaskan sepeda motornya adalah hasil kawin campur berbagai macam jenis. Mesin dan sasisnya berasal dari Honda GL Max yang dia beli dari hasil jerih payah menambal ban, harganya Rp 450 ribu, beli di tukang rongsokan. Dia kemudian menambahkan tangki dari motor trail China, Jok berasal dari vespa. Lampu depan yang bundar ini berasal dari mobil Chery.

“STNK-nya apa ini?” tanya Jokowi.

“GL Max,” jawab dia. Kemudian Jokowi menaiki motor itu.

Sehari-harinya, Sugeng biasa berkeliling empat desa di Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan. 100 Buku hingga 120 buku biasa dia bawa.

“Ide awalnya dari keprihatinan sendiri, suatu saat saya tanya ke warga, di mana perpustakaan. Kemudian warga itu bertanya balik soal perpustakaan itu apa. Dari situ Alhamdulillah ide perpustakaan ini muncul,” kata dia.

Jokowi menilai aktivisme mereka ini sebagai hal yang luar biasa. “Saya sangat kagum, sangat kaget. Ternyata bermacam-macam telah dilakukan oleh pegiat literasi ini. Ada perahu dipakai perpustakaan, ada yang jualan endog (telor) dadar plus jualan buku, jualan burger plus membawa buku untuk anak-anak, bemo yang di sisi belakangnya diberi tumpukan buku,” tutur Jokowi.

“Ini sebuah gerakan yang menurut saya sangat bagus sekali, tidak disentuh oleh pemerintah, tetapi mereka bergerak sendiri,” imbuh Jokowi.

Diluar keempat pegiat literasi yang kami sebut diatas, masih ada total sekitar 39 pegiat literasi yang diundang dan bersilaturahmi dengan Presiden Jokowi dari berbagai daerah, termasuk Tasikmalaya, Pulau Buton, Wonogiri, Polewali Mandar, Purbalingga dan Manggarai Barat.

About Dunia Perpustakaan

DuniaPerpustakaan.com merupakan salah satu portal berita dan informasi yang dimiliki CV DP GROUP yang berisi terkait dengan semua informasi bidang ilmu perpustakaan. Didalamnya membahas terkait dengan Software Perpustakaan, Lowongan Kerja untuk Pustakawan, Profile Perpustakaan di dalam negeri dan luar negeri, Sosok Inspirasi terkait Pustakawan dan pejuang literasi, dll

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar