Dunia Perpustakaan | Ada sebuah ungkapan yang belakangan menarik perhatian saya: anak-anak sekarang membaca tanpa memahami, sekolah tanpa belajar.
Kalimat ini terdengar sederhana. Namun, sesungguhnya menyimpan kritik yang sangat serius terhadap wajah pendidikan kita.
Bayangkan seorang anak yang mampu membaca satu halaman buku dengan lancar. Ia bisa menyebutkan setiap kata, menyelesaikan tugas membaca, bahkan menjawab pertanyaan berdasarkan kalimat yang baru saja dibacanya. Tetapi ketika diminta menjelaskan kembali isi bacaan menggunakan bahasanya sendiri, ia kesulitan.
Contoh lainnya terjadi di sekolah. Anak datang setiap pagi, mengikuti pelajaran, mencatat penjelasan guru, mengerjakan pekerjaan rumah, mengikuti ujian, memperoleh nilai, kemudian naik kelas.
Semua aktivitas pendidikan berjalan sebagaimana mestinya. Tetapi apakah anak benar-benar memahami apa yang dipelajarinya?
Pertanyaan inilah yang seharusnya membuat kita berhenti sejenak dan mengevaluasi pendidikan Indonesia.
Membaca bukan sekadar mengenali kata
Dalam dunia pendidikan, kemampuan membaca sering kali terlalu sederhana dimaknai sebagai kemampuan mengenali huruf, merangkai kata, dan melafalkan kalimat.
Padahal, membaca merupakan proses kognitif yang jauh lebih kompleks.
Membaca menuntut seseorang memahami gagasan, menghubungkan informasi, menggunakan pengetahuan sebelumnya, menarik kesimpulan, dan mengevaluasi pesan yang disampaikan penulis.
Penelitian Smith, Snow, Serry, dan Hammond (2021) dalam jurnal Reading Psychology menunjukkan bahwa pengetahuan awal memiliki peran penting dalam pemahaman bacaan anak usia sekolah dasar.
Seseorang tidak cukup hanya mengenali kata. Ia harus memiliki pengetahuan yang memungkinkan otaknya menghubungkan informasi baru dengan pemahaman yang telah dimiliki.
Penelitian Washburn (2022) juga mengingatkan bahwa kelancaran membaca secara lisan tidak cukup untuk memastikan seseorang memahami isi bacaan.
Dengan demikian, anak yang mampu membaca dengan lancar belum tentu memiliki kemampuan literasi membaca yang baik.
Inilah persoalan yang perlu mendapat perhatian. Jangan sampai kita merasa berhasil meningkatkan kemampuan membaca anak, padahal yang meningkat hanya kemampuan melafalkan tulisan.
Tujuan membaca bukan menyelesaikan halaman, melainkan membangun pemahaman.
Data PISA: Alarm bagi pendidikan Indonesia
Persoalan tersebut bukan sekadar kekhawatiran atau asumsi pribadi.
Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang diterbitkan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memberikan gambaran yang perlu kita perhatikan.
Dari siswa Indonesia berusia 15 tahun yang mengikuti asesmen tersebut, hanya sekitar 25 persen mencapai Level 2 atau lebih tinggi dalam literasi membaca.
Sebagai perbandingan, rata-rata negara OECD mencapai 74 persen.
Artinya, sekitar tiga dari empat siswa Indonesia belum mencapai tingkat kecakapan minimum literasi membaca menurut standar PISA.
Apa makna Level 2?
Pada tingkat tersebut, siswa setidaknya mampu mengidentifikasi gagasan utama dalam teks dengan panjang sedang, menemukan informasi berdasarkan kriteria tertentu, serta merefleksikan tujuan dan bentuk teks.
Lebih memprihatinkan lagi, hampir tidak ada siswa Indonesia yang mencapai Level 5 atau lebih tinggi.
Pada tingkat ini, siswa diharapkan mampu memahami teks panjang, menghadapi konsep abstrak, serta membedakan fakta dan opini berdasarkan petunjuk yang tersirat.
Data tersebut memberikan gambaran bahwa kemampuan membaca yang lebih kompleks masih menjadi tantangan besar bagi pendidikan Indonesia.
Tentu, PISA bukan satu-satunya ukuran kualitas pendidikan. Hasilnya juga tidak berarti seluruh anak Indonesia mengalami persoalan yang sama. Namun, temuan ini terlalu penting untuk diabaikan.
Kita perlu bertanya: jika anak-anak sudah bertahun-tahun belajar membaca di sekolah, mengapa kemampuan memahami bacaan masih menjadi persoalan serius?
Sekolah tanpa belajar: Ketika nilai lebih penting daripada pemahaman
Persoalan berikutnya adalah kemungkinan terjadinya pembelajaran yang hanya berorientasi pada penyelesaian materi dan pencapaian nilai.
Dalam penelitian pendidikan, dikenal istilah surface learning dan deep learning.
Surface learning merupakan pendekatan belajar yang cenderung menekankan hafalan, pengulangan informasi, dan pemenuhan tuntutan ujian.
Sementara itu, deep learning menekankan pemahaman konsep, kemampuan menghubungkan berbagai gagasan, berpikir kritis, dan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan nyata.
Keduanya bukan sekadar istilah akademis.
Kita bisa melihat perbedaannya dalam kehidupan sekolah sehari-hari.
Anak yang menghafalkan rumus mungkin mampu menjawab soal ujian. Tetapi apakah ia memahami mengapa rumus tersebut digunakan?
Anak yang menghafalkan definisi demokrasi mungkin memperoleh nilai bagus. Tetapi apakah ia memahami bagaimana demokrasi bekerja dan mengapa perbedaan pendapat harus dihargai?
Anak yang menghafalkan sejarah mungkin mampu menyebutkan tanggal dan nama tokoh. Tetapi apakah ia mampu memahami hubungan antara peristiwa masa lalu dan persoalan masyarakat hari ini?
Jika pendidikan hanya menghasilkan kemampuan mengulang informasi, kita sedang membangun generasi yang pandai menjawab soal, tetapi belum tentu mampu memahami persoalan.
Penelitian Freeman dan kolega (2014) yang menganalisis 225 penelitian pembelajaran STEM menemukan bahwa pembelajaran aktif menghasilkan capaian ujian rata-rata lebih tinggi dibandingkan metode ceramah tradisional.
Penelitian Deslauriers dan kolega (2019) juga menemukan bahwa mahasiswa yang mengikuti pembelajaran aktif memperoleh hasil belajar lebih baik, meskipun mereka merasa seolah-olah belajar lebih sedikit.
Temuan ini memberikan pelajaran penting: belajar bukan sekadar mendengarkan penjelasan guru. Belajar membutuhkan keterlibatan pikiran, proses bertanya, mencoba, menganalisis, dan membangun pemahaman.
Ketika teknologi mempercepat informasi, tetapi belum tentu memperdalam pengetahuan
Kita juga tidak bisa mengabaikan perubahan lingkungan belajar anak.
Anak-anak sekarang tumbuh dalam lingkungan yang dipenuhi informasi digital. Mereka dapat menemukan jawaban atas hampir semua pertanyaan melalui mesin pencari, video pendek, media sosial, dan kecerdasan buatan.
Kemudahan tersebut sebenarnya merupakan peluang besar.
Namun, ada persoalan yang harus diwaspadai: mendapatkan informasi tidak sama dengan memahami informasi.
Anak bisa menemukan jawaban dengan cepat tanpa memahami proses berpikir yang menghasilkan jawaban tersebut.
Mereka bisa membaca ringkasan tanpa pernah memahami buku aslinya. Bisa menyalin penjelasan tanpa menguji kebenarannya. Bahkan, bisa menghasilkan tugas yang terlihat sempurna dengan bantuan teknologi, tetapi tidak mampu menjelaskan isi tugas tersebut.
Persoalannya bukan terletak pada teknologi semata. Teknologi dapat membantu pembelajaran jika digunakan dengan tepat.
Yang perlu kita khawatirkan adalah ketika kemudahan memperoleh jawaban membuat proses berpikir dianggap tidak lagi penting.
Di sinilah literasi menjadi semakin mendasar. Anak harus mampu mempertanyakan informasi, memeriksa sumber, membandingkan perspektif, dan membangun kesimpulan sendiri.
Jangan hanya menyalahkan anak, evaluasi sistem pendidikannya
Saya kira, akan terlalu mudah jika kita menyimpulkan bahwa anak-anak sekarang malas membaca, tidak suka belajar, atau terlalu bergantung pada teknologi.
Kita perlu melihat bagaimana lingkungan pendidikan membentuk perilaku belajar mereka.
Apakah sekolah memberikan cukup ruang bagi anak untuk bertanya?
Apakah guru mendorong diskusi dan perdebatan yang sehat?
Apakah tugas sekolah mengajak anak berpikir atau hanya menyalin informasi?
Apakah penilaian benar-benar mengukur pemahaman?
Apakah perpustakaan sekolah menyediakan lingkungan yang memungkinkan anak menemukan pengetahuan secara mandiri?
Dan yang tidak kalah penting, apakah keluarga memberikan teladan membaca dan berdiskusi di rumah?
Kita juga perlu mengkritisi kebijakan pendidikan yang terlalu sering menjadikan angka, kelulusan, administrasi, dan penyelesaian kurikulum sebagai ukuran keberhasilan.
Siswa yang memperoleh nilai tinggi belum tentu memiliki kemampuan berpikir kritis. Sekolah dengan fasilitas lengkap belum tentu menghasilkan pengalaman belajar yang berkualitas.
Pendidikan seharusnya tidak berhenti pada keberhasilan menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar. Pendidikan harus menghasilkan perubahan nyata dalam pengetahuan, pemahaman, sikap, dan kemampuan peserta didik.
Perpustakaan harus kembali menjadi ruang berpikir
Dalam persoalan ini, perpustakaan memiliki posisi yang sangat penting.
Sayangnya, keberhasilan perpustakaan masih sering diukur melalui jumlah koleksi, jumlah kunjungan, jumlah peminjaman, atau banyaknya kegiatan membaca.
Indikator tersebut memang penting. Namun, belum cukup untuk menggambarkan keberhasilan literasi.
Kita perlu mulai bertanya: setelah mengunjungi perpustakaan, apakah anak memperoleh pengetahuan baru? Setelah membaca buku, apakah ia mampu menjelaskan gagasan yang ditemukan? Apakah ia mampu menghubungkan isi buku dengan persoalan di sekitarnya?
Perpustakaan seharusnya tidak hanya menjadi tempat menyimpan buku dan menyediakan fasilitas membaca.
Perpustakaan harus menjadi ruang bagi anak untuk bertanya, berdiskusi, bereksperimen dengan gagasan, menemukan perbedaan pendapat, dan membangun pengetahuan.
Pustakawan juga tidak cukup hanya mengelola koleksi dan melayani peminjaman. Mereka perlu mengambil peran lebih besar sebagai fasilitator literasi informasi dan pembelajaran.
Kita membutuhkan perpustakaan yang tidak sekadar membuat anak datang untuk membaca, tetapi membuat mereka pulang dengan pemahaman baru.
Pendidikan harus menghasilkan manusia yang memahami, bukan sekadar menghafal
Ungkapan membaca tanpa memahami, sekolah tanpa belajar seharusnya menjadi alarm bagi semua pihak.
Kita tidak sedang menghadapi persoalan sederhana tentang minat baca. Kita sedang menghadapi pertanyaan yang lebih mendasar mengenai tujuan pendidikan.
Untuk apa anak menghabiskan belasan tahun di sekolah jika pengetahuan yang diperoleh tidak mampu digunakan untuk memahami kehidupan?
Untuk apa perpustakaan dipenuhi buku jika membaca tidak membentuk pemikiran?
Untuk apa teknologi pendidikan terus berkembang jika kemampuan manusia dalam menilai informasi tidak ikut berkembang?
Kita tidak membutuhkan generasi yang hanya mampu menyelesaikan tugas. Kita membutuhkan generasi yang mampu memahami persoalan, mempertanyakan ketidakbenaran, menghubungkan pengetahuan, dan menghasilkan gagasan.
Sekolah harus menjadi tempat anak benar-benar belajar, bukan sekadar tempat mereka menghabiskan waktu untuk memenuhi kewajiban pendidikan.
Perpustakaan harus menjadi tempat pengetahuan tumbuh, bukan sekadar tempat buku tersimpan.
Dan membaca harus menjadi proses membangun pemahaman, bukan perlombaan menyelesaikan halaman.
Sebab, pendidikan yang berhasil bukanlah pendidikan yang membuat anak mampu mengulang semua yang diajarkan, melainkan pendidikan yang membuat mereka mampu memahami sesuatu yang sebelumnya tidak mereka pahami.
Referensi ilmiah
- Smith, R., Snow, P., Serry, T., & Hammond, L. (2021). The Role of Background Knowledge in Reading Comprehension: A Critical Review. Reading Psychology, 42(3), 214–240. https://doi.org/10.1080/02702711.2021.1888348
- Washburn, J. (2022). Reviewing Evidence on the Relations Between Oral Reading Fluency and Reading Comprehension for Adolescents. Journal of Learning Disabilities, 55(1), 22–42. https://doi.org/10.1177/00222194211045122
- OECD. (2023). PISA 2022 Results: Country Note – Indonesia. OECD Publishing. https://www.oecd.org/en/publications/pisa-2022-results-volume-i-and-ii-country-notes_ed6fbcc5-en/indonesia_c2e1ae0e-en.html
- Freeman, S., et al. (2014). Active Learning Increases Student Performance in Science, Engineering, and Mathematics. Proceedings of the National Academy of Sciences, 111(23), 8410–8415. https://doi.org/10.1073/pnas.1319030111
- Deslauriers, L., et al. (2019). Measuring Actual Learning Versus Feeling of Learning in Response to Being Actively Engaged in the Classroom. Proceedings of the National Academy of Sciences, 116(39), 19251–19257. https://doi.org/10.1073/pnas.1821936116
- Leachman, M., Wolters, A., & Kim, Y. S. G. (2025). The Relation Between Text Reading and Reading Comprehension Varies as a Function of Developmental Phase, Orthographic Depth, and Measurement Characteristics: Evidence From a Meta-Analysis. Journal of Educational Psychology, 117(3), 508–528. https://doi.org/10.1037/edu0000932
Dunia Perpustakaan Informasi Lengkap Seputar Dunia Perpustakaan
