7 Tantangan Perpustakaan Indonesia di Era AI

7 Tantangan Perpustakaan Indonesia di Era AI


Dunia Perpustakaan | Yogyakarta kembali menjadi pusat perhatian dunia perpustakaan Indonesia. Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) ke-17 resmi berlangsung pada 4–6 Agustus 2026 dengan mengangkat tema “Kesadaran, Perilaku, Interaksi, dan Budaya Informasi di Era Kecerdasan Buatan.” Konferensi ini diselenggarakan melalui kolaborasi Perpustakaan Nasional RI, Forum Perpustakaan Digital Indonesia (FPDI), dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Tema tersebut bukan sekadar mengikuti tren. Kehadiran Artificial Intelligence (AI) benar-benar telah mengubah cara masyarakat mencari, membaca, memahami, bahkan menciptakan informasi.

Pertanyaannya, apakah perpustakaan sudah siap?

Bila tidak segera beradaptasi, perpustakaan berisiko kehilangan relevansinya di tengah masyarakat yang kini lebih akrab bertanya kepada AI daripada membuka katalog perpustakaan.

Berikut tujuh tantangan besar yang menurut penulis perlu menjadi perhatian seluruh pengelola perpustakaan di Indonesia.

#1. AI Menjadi “Pustakawan Pertama” bagi Masyarakat

AI Menjadi "Pustakawan Pertama" bagi MasyarakatHari ini banyak orang tidak lagi membuka mesin pencari ketika membutuhkan informasi. Mereka langsung bertanya kepada AI.

Jika dulu pengguna datang ke perpustakaan untuk mencari jawaban, kini jawaban sering kali sudah mereka dapatkan sebelum mengunjungi perpustakaan.

Perubahan perilaku ini menuntut perpustakaan untuk menghadirkan layanan yang lebih bernilai daripada sekadar menyediakan koleksi.

#2. Literasi AI Harus Menjadi Layanan Baru

Literasi Ai di PerpustakaanKemudahan menggunakan AI bukan berarti semua informasi yang dihasilkan selalu benar.

Justru di sinilah perpustakaan memiliki peran penting. Perpustakaan perlu mengajarkan masyarakat bagaimana: menggunakan AI secara bijak, memverifikasi jawaban AI, mengenali informasi palsu, menjaga etika penggunaan AI.

Literasi informasi kini berkembang menjadi literasi AI.

#3. Koleksi Digital Harus Lebih Mudah Diakses

Pengguna saat ini menginginkan informasi yang cepat, mudah, dan dapat diakses dari mana saja.

Jika mengakses koleksi perpustakaan terasa lebih rumit dibanding bertanya kepada AI, maka pengguna akan memilih jalan yang paling praktis.

Digitalisasi koleksi tidak lagi menjadi pilihan, tetapi kebutuhan.

#4. Pustakawan Harus Menguasai AI

AI bukan musuh pustakawan.

Sebaliknya, AI dapat membantu membuat ringkasan buku, menyusun metadata, menerjemahkan dokumen, hingga meningkatkan kualitas layanan referensi.

Pustakawan yang menguasai AI justru akan memiliki nilai tambah dibanding mereka yang menghindarinya.

#5. Kepercayaan Informasi Menjadi Tantangan Besar

AI mampu menghasilkan jawaban dalam hitungan detik.

Namun, tidak semua jawaban tersebut akurat.

Perpustakaan memiliki peluang besar menjadi institusi yang memastikan informasi tetap valid, dapat dipertanggungjawabkan, dan berbasis sumber terpercaya.

#6. Perpustakaan Harus Menjadi Ruang Kolaborasi

Masyarakat tidak lagi membutuhkan perpustakaan hanya sebagai tempat membaca.

Perpustakaan masa depan perlu menjadi ruang diskusi, pelatihan, inovasi, dan kolaborasi.

Tempat di mana masyarakat belajar menggunakan teknologi, bukan sekadar meminjam buku.

#7. Budaya Informasi Lebih Penting daripada Teknologi

Teknologi akan terus berubah.

Namun budaya berpikir kritis, kemampuan mengevaluasi informasi, dan kebiasaan belajar sepanjang hayat tetap menjadi fondasi utama.

Karena itu, transformasi perpustakaan tidak cukup hanya membeli perangkat baru atau membangun aplikasi digital.

Yang jauh lebih penting adalah membangun budaya informasi yang sehat di masyarakat.

KPDI 2026 Menjadi Momentum

KPDI ke-17 mengangkat berbagai topik strategis, mulai dari perubahan perilaku informasi masyarakat, tantangan akses perpustakaan digital, hingga pemanfaatan AI dalam layanan perpustakaan. Konferensi ini diharapkan menjadi ruang berbagi gagasan untuk membangun ekosistem perpustakaan yang adaptif, inklusif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat di era kecerdasan buatan.

Pertanyaan terbesar bukan lagi “Apakah AI akan mengubah perpustakaan?”

Jawabannya sudah jelas: AI telah mengubahnya.

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:

Apakah perpustakaan akan memimpin perubahan tersebut, atau justru tertinggal oleh perubahan itu sendiri?

Bagaimana menurut Anda?

Apakah AI merupakan ancaman bagi perpustakaan, atau justru peluang terbesar untuk membawa perpustakaan menjadi lebih relevan di masa depan?


profil penulis: Ari Suseno

Founder CV. Dunia Perpustakaan Group. Pernah mengenyam pendidikan Jurusan Ilmu Perpustakaan (S1) di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. #ContentCreator, #Affiliate, #Blogger, #PegiatLiterasi, #SocialActivist Konsultasi dan Sharing Follow Us

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *