Dunia Perpustakaan | Siapapun yang sudah berani mengatakan Mina Baca orang Indonesia rendah, alangkah bijaknya jika anda juga harus ingat tentang kisah anak yang bunuh diri karena ibunya tidak mampu membelikanya buku.
Ini sebuah pengingat untuk siapapun, khususnya untuk negara yang memiliki tanggungjawab penuh atas kondisi bangsa dan negaranya serta rakyatnya. Demikian juga untuk pengingat para birokrat yang selama ini mengklaim sebagai pejuang literasi, bagaimana anda menyikapi peristiwa tragis dan memilukan ini?
Ketika Buku Sekolah Menjadi Beban yang Terlalu Berat
Artikel ini tidak bertujuan menginspirasi tindakan bunuh diri. Jika Anda pernah memikirkan atau merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal orang-orang dalam kondisi tersebut, jangan ragu bercerita dan berkonsultasi kepada ahlinya.
Menurut saya, ada berita yang tidak sekadar menyedihkan. Ada berita yang membuat kita terdiam lama, menatap langit-langit, dan bertanya: di mana kita sebagai bangsa?
Seorang anak kelas IV sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, berinisial YBS (10), diduga mengakhiri hidupnya. Alasan yang beredar sungguh menyesakkan dada: ia meminta uang kurang dari Rp 10.000 untuk membeli buku dan pena. Ibunya menjawab jujur — mereka tidak punya uang.
Berita ini pertama kali saya baca dari laporan Kompas.com (Kompas.com, 3 Februari 2026). Dan saya tidak bisa berhenti memikirkan satu kalimat: Rp 10.000 saja sulit bagi mereka yang tergolong masyarakat miskin.
Peristiwa itu terjadi di Dusun Sawasina, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada. YBS tinggal bersama neneknya yang sudah berusia sekitar 80 tahun di sebuah pondok sederhana. Ibunya, MGT (47), seorang janda dengan lima anak, bekerja sebagai petani dan buruh serabutan.
Untuk mengurangi beban sang ibu, anak ini tinggal bersama neneknya.
Pada Kamis (29/1/2026), ia ditemukan tergantung di dahan pohon cengkeh, tak jauh dari pondok tersebut.
Polisi dari Polres Ngada menyatakan dugaan sementara adalah bunuh diri dan masih melakukan pendalaman. Surat tulisan tangan dalam bahasa Ngada ditemukan di lokasi. Setelah dicocokkan dengan buku tulisnya, tulisan itu dinyatakan memiliki kecocokan.
Isinya sederhana. Dan justru karena kesederhanaannya, ia menghancurkan hati:
Mama saya pergi dulu.
Mama relakan saya pergi.
Jangan menangis ya mama.
Tidak perlu mama mencari atau merindukan saya.
Selamat tinggal mama.
Menurut saya, tidak ada yang lebih tragis daripada seorang anak yang merasa kepergiannya justru akan meringankan beban ibunya.
Kemiskinan yang Membunuh Imajinasi
Dosen filsafat dari Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, RD Leonardus Mali, dalam laporan Kompas.com menyampaikan bahwa kemiskinan ekstrem sering kali membunuh lebih awal imajinasi anak-anak untuk bahagia.
Saya setuju. Kemiskinan bukan hanya soal tidak punya uang. Kemiskinan adalah kondisi ketika harapan terasa terlalu mahal.
Anak-anak dari keluarga miskin ekstrem, kata Leonardus, juga lebih rentan mengakses informasi tidak tersaring dari media sosial. Mereka bisa saja meniru tindakan yang mereka lihat tanpa memiliki kematangan emosi untuk memahaminya.
Di sinilah saya melihat ironi zaman ini.
Kita hidup di era banjir informasi. Gadget masuk sampai ke desa. Media sosial bisa diakses siapa saja. Tapi literasi? Pendampingan? Ruang aman untuk curhat? Itu yang sering tidak ada.
Buku yang Seharusnya Membebaskan, Justru Membebani
Sebagai orang yang hidup di dunia literasi dan perpustakaan, saya tidak bisa mengabaikan satu fakta pahit: tragedi ini dipicu oleh kebutuhan membeli buku dan pena.
Pertanyaannya sederhana tapi menyakitkan:
Mengapa di negeri ini, masih ada anak yang harus merasa putus asa hanya karena tidak mampu membeli perlengkapan sekolah di bawah Rp 10.000?
Bukankah ada dana BOS? Ada bantuan pendidikan? Bukankah sekolah seharusnya memastikan tidak ada anak yang terhambat belajar karena alasan ekonomi?
Saya tidak sedang menyalahkan satu pihak. Tapi menurut saya, ini adalah kegagalan kolektif.
- Kegagalan sistem perlindungan sosial.
- Kegagalan pemerataan akses pendidikan.
- Kegagalan literasi keluarga dan komunitas.
- Dan mungkin juga kegagalan kita sebagai masyarakat yang terlalu sibuk dengan urusan masing-masing.
- Negara, Masyarakat, dan Tanggung Jawab Sosial
Sejumlah saksi telah diperiksa oleh pihak kepolisian. Pemerintah daerah didorong untuk serius menangani kondisi keluarga ini agar tragedi serupa tidak terulang.
Tapi bagi saya, ini bukan hanya soal investigasi.
Ini soal bagaimana negara hadir sebelum tragedi terjadi, bukan sesudahnya.Ini soal bagaimana sekolah benar-benar menjadi ruang aman, bukan ruang yang tanpa sadar menekan anak-anak dari keluarga miskin.
Ini soal bagaimana perpustakaan desa, perpustakaan sekolah, dan ruang belajar publik benar-benar aktif menjangkau anak-anak yang paling rentan.
Menurut saya, kalau perpustakaan hidup, komunitas literasi aktif, guru peka, dan masyarakat saling peduli — mungkin anak ini tidak merasa sendirian.
Sebuah Tamparan untuk Kita Semua
Kematian YBS adalah tamparan keras bagi kita.
Bukan hanya bagi pemerintah dan Bukan hanya bagi sekolah.
Bukan hanya bagi aparat.
Tapi bagi kita semua yang sering menganggap masalah kemiskinan sebagai angka statistik, bukan sebagai wajah anak kecil yang memendam kesedihan sendirian.
Rp 10.000. Angka yang mungkin tidak kita pikirkan dua kali untuk membeli kopi. Tapi bagi sebagian keluarga di negeri ini, itu adalah jurang antara harapan dan keputusasaan.
Menurut saya, jika satu anak saja merasa hidupnya terlalu berat hanya karena ingin bersekolah, maka ada yang salah dalam sistem pendidikan dan keadilan sosial kita.
Semoga tragedi ini tidak hanya menjadi berita sesaat. Semoga ia menjadi titik balik.
Dan semoga tidak ada lagi anak Indonesia yang merasa bahwa kepergiannya adalah cara untuk meringankan beban orang tuanya.
Dunia Perpustakaan Informasi Lengkap Seputar Dunia Perpustakaan
