Home ::: Artikel Perpustakaan ::: Budaya itu Bernama Membaca

Budaya itu Bernama Membaca

Ingin publikasi GRATIS kegiatan perpustakaan, TBM, sudut baca, dan aktivis kegiatan literasi lainya, Artikel, Makalah, dll segera hubungi kami DISINI!

Khusus pegiat literasi dan pustakawan yang ingin punya akun khusus disini, segera hubungi WhatsApp kami: 08586 8080 173

-----------------------------------------------------------

Budaya itu Bernama Membaca!

Dunia Perpustakaan | Negara Indonesia mempunyai tingkat budaya membaca sangat rendah. Ketertarikan orang Indonesia terhadap buku bacaan masih sangat kurang.

Minat baca itu memang ada pada diri semua manusia,akan tetapi minat dalam diri setiap individu yang berbeda-beda. Minat atau keinginan untuk membaca bisa tumbuh dengan kuat dalam diri seseorang ketika ada sesuatu yang menarik saat terbiasa dekat dengan buku.

Bagaimana mungkin orang mempunyai minat untuk membaca ketika untuk sekedar mendapat buku bacaan saja sulit. Anak-anak sekolah di Indonesia,terutama yang berada di daerah, masih sangat keberatan ketika dihadapkan pada kewajiban membeli buku.

Harga buku di Indonesia termasuk mahal. Untuk membeli buku wajib di sekolah saja sangat sulit, apalagi untuk sekedar membeli buku bacaan. Karena kesulitan ini, maka minat untuk membaca itu akan surut dan lama-lama buku menjadi barang eklusif dan asing bagi orang kebanyakan. Karena itu orang Indonesia menjadi kurang tertarik dengan buku karena tidak terbiasa dekat dengan buku.

Minat baca bisa tumbuh kembali tak kala ada sarana kemudahan mendapatkan bacaan.

Kita tidak bisa pungkiri, rata-rata minat baca orang Indonesia masih rendah. Memang belum ada survey resmi tentang pelajar dalam menyelesaikan satu judul buku dalam setahun. Tapi coba difikir secara jernih, bagaimana mereka mau menyelesaikan satu judul buku kalau untuk mendapatkan buku untuk dibaca saja sulit.

Lalu timbul pertanyaan, bagaimana dengan kemudahan buku dari perpustakaan sekolah?

Coba lihat rata-rata kondisi perpustakaan sekolah?

Sebagian besar hanya jadi gudang buku dan tempat menyusun buku. Perpustakaan hanya tempat menjemukan dan kurang menarik untuk dikunjungi karena kurangnya inovasi kegiatan dalam usaha menarik para pelajar untuk terbiasa memanfaatkannya. Ini yang harusnya difikirkan.

Keadaan ini tak jauh berbeda dengan perpustakaan kampus. Pengunjung perpustakaan sebagian besar adalah mahasiswa yang mencari buku untuk kewajiban tugas mata kuliah.

Kalau ada fasilitas akses internet gratis,mahasiswa pengunjung perpustakaan lebih asyik menikmati akses internet gratis.

Hal seperti ini, yang membuat penilaian hasil survey More Literate Nation on the World menempatkan Indonesia sebagai negara urutan ke 60 dari 61 negara dengan tingkat budaya membaca yang rendah.
Kenapa harus mengingkari?

Hal ini yang justru menjadi cambuk untuk para penggiat literasi berjuang menumbuhkannya. Menebar virus baca. Mencari inovasi kegiatan untuk menjadikan budaya membaca itu sebagai budaya popular seperti halnya bersanding dengan teknologi digital yang mampu mendampingi setiap orang di Indonesia dalam beraktifitas.

Tidak banyak orang yang mau berjuang dibidang literasi. Pustaka bergerak salah satu kegiatan efektif untuk meningkatkan minat dan menumbuhkan budaya membaca. Ini adalah inovasi dari perpustakaan keliling yang selama ini ada. Masih banyak inovasi kegiatan lainnya yang bisa menjadikan membaca menjadi sebuah budaya.

Perpustakaan yang dikelola pemerintah masih belum banyak yang berinovasi. Karena keterbatasan dalam kebijakan. Konflik kepentingan dan regulasi kadang membatasi kegiatan perpustakaan di lingkungan birokrasi. Maka peran masyarakat diperlukan untuk mengembangkan ini.

Perpustakaan mandiri, Rumah baca, taman baca atau apapun namanya harus lebih berinovasi. Karena kegiatan literasi yang telah menjadi budaya terasing di Indonesia harus dibangkitkan. Mulai membuat program-program yang mendekatkan masyarakat dengan buku untuk menumbuhkan rasa cinta buku.

Literasi dijadikan sebuah simpul kegiatan Menyenangkan,Unik, kreatif, inovatif dan mendidik.

Dari sini orang akan dengan sendirinya mendekat dan menumbuhkan kembali ketertarikan agar lebih berminat untuk membaca. Memang tidak mudah menumbuhkan minat itu, apalagi untuk kalangan remaja dan orang tua yang sudah memiliki kesibukan dan kesenangan tersendiri. Tapi paling tidak bisa dimulai dari anak-anak untuk menumbuhkan karakter anak menjadi seorang pecinta buku.

Mungkin banyak orang masih belum mau mengakui minat baca itu rendah, tapi kenyataannya minat itu memang masih sangat kurang karena ada faktor lain dan bukan dari dalam diri seseorang.

Faktor penghambat itulah yang harus kita atasi. Menumbuhkan minat baca dan menjadikan populer budaya membaca itu harus segera dilakukan. Karena tanpa budaya membaca niscaya Indonesia akan sulit menjadi maju.

Untuk itulah, mari para pejuang literasi untuk terus berjuang memajukan bangsa. Apapun namanya, pustaka bergerak, pustaka jalanan, rumah baca, taman baca atau perpustakaan untuk berlomba-lomba membangkitkan dan menggairahkan budaya membaca.

Saling bahu membahu membawa perubahan, membangun negara dengan cara yang kita bisa. Kita kembangkan gerakan-gerakan literasi untuk selalu beriring dengan dunia pendidikan. Karena membaca akan membawa kita berkelana mengelilingi jagat raya.

rumah-baca-tirai-ilmu

Penulis: Rumah Baca Tirai Ilmu
Rumah Baca Tirai Ilmu adalah sebuah rumah baca dengan konsep perpustakaan menyenangkan yang didirikan dengan tujuan untuk mengembangkan minat baca dan life-skill masyarakat dusun Krapyak Pucangan Kartasura.

Tentang Penulis: Dunia Perpustakaan

DuniaPerpustakaan.com merupakan salah satu portal berita dan informasi yang dimiliki CV Dunia Perpustakaan GROUP yang berisi terkait dengan semua informasi bidang ilmu perpustakaan. Didalamnya membahas terkait dengan Software Perpustakaan, Lowongan Kerja untuk Pustakawan, Profile Perpustakaan di dalam negeri dan luar negeri, Sosok Inspirasi terkait Pustakawan dan pejuang literasi, dll

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar