Perpustakaan Perlu Sebuah Gerakan dan Gebrakan Agar Dikenal Masyarakat

Dunia Perpustakaan | Hari Kamis (25/8) pagi, sekitar pukul 08.00 WIB, aula terbuka di kompleks kantor Perpustakaan Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Sukoharjo  terlihat regeng dan gayeng.

Kursi-kursi tertata dengan rapi, dan sebagian sudah diduduki para siswa berseragam batik warna merah. Sementara itu beberapa petugas terlihat menyelesaikan pekerjaan dan sebagian lagi mencoba-coba suara sound system.

Suasana saat itu benar-benar terasa hidup. Maklum, saat itu tengah digelar seminar jurnalistik, sekaligus pengumuman pemenang lomba menulis cerpen dan lomba penulisan ilmiah populer.

Namun ada sesuatu yang terasa unik. Setelah semua peserta datang, acara diawali dengan melakukan aksi “unjuk rasa” di persimpangan tugu Adipura, tak jauh dari tempat itu.

Seluruh karyawan perpustakaan dan para siswa berjalan bersama-sama sembari meneriakkan yel-yel “ayo berkunjung ke Perpus”. Lalu saat lampu menyala merah, beberapa karyawan berdiri menghadap para pengguna jalan sembari memegangi spanduk berisi ajakan untuk ke perpustakaan.

Pada saat yang sama, para siswa membagi-bagikan pin ayo berkunjung ke perpustakaan kepada para pengguna sepeda motor atau mobil yang tengah berhenti.

Aksi yang berlangsung tak lebih dari 30-an menit tersebut sangat meriah dan menarik perhatian masyarakat sekitar.  Setelah pin habis dibagikan kepada pengguna jalan, rombongan pun berjalan kembali ke perpustakaan untuk mengikuti seminar.

Mengutip dari joglosemar.co, [26/08/16]. Seorang staf perpustakaan sempat bercerita, perpustakaan Sukoharjo sekarang ini memang sedang berbenah. Bukan sebatas  pembenahan  secara fisik yakni membangun aula terbuka yang bersifat multifungsi, namun juga mengubah paradigma dalam memandang sebuah perpustakaan.

Perpustakaan perlu melakukan semacam gerakan ektrem dan frontal agar dikenal oleh masyarakat. Bentuknya bisa macam-macam, salah satunya adalah yang mereka lakukan, yakni berupa  pembagian pin kepada masyarakat umum, mengajak unsur-unsur masyarakat untuk menggelar pameran atau kegiatan lainnya ke kompleks perpustakaan.

Untuk menghidupkan perpustakaan, tampaknya diperlukan sosok-sosok yang memiliki sikap peduli, yang sekaligus memiliki kemampuan untuk melakukan sebuah gerakan.  Dan Perpustakaan Sukoharjo telah memiliki beberapa syarat tersebut.

Kiranya, apa yang dilakukan oleh Perpustakaan di Sukoharjo tersebut dapat menjadi contoh dan inspirasi bagi perpustakaan daerah yang lain. Di zaman sekarang, di mana tantangan untuk meningkatkan minat baca semakin berat, Perpustakaan dituntut untuk semakin dinamis mengikuti perkembangan zaman.

Bukan saatnya lagi perpustakaan bersikap pasif dan menunggu pengunjung datang. Jika masih menggunakan paradigma lama dan pola konvensional seperti itu, cepat atau lambat perpustakaan bakal menjadi gedung kosong tanpa makna.

Kita tahu, salah satu tantangan berat perpustakaan adalah perkembangan teknologi informasi, baik berupa internet, gadget dan semacamnya. Ketika budaya baca di kalangan anak-anak belum terbangun, mereka telah dihadapkan dengan “kotak sakti”  yang kecil dan mudah dibawa ke mana-mana.

Budaya membaca buku telah beralih menjadi budaya baca status. Demikian pula, budaya menulis yang belum terbangun dengan baik,  telah berbelok  menjadi budaya menulis status di grup-grup media sosial (Medsos).

Karena itu, saatnya Perpustakaan bersikap aktif dan kreatif untuk menarik perhatian masyarakat, dan menjaring pengunjung-pengunjung baru. Ini bukan untuk siapa-siapa selain demi masyarakat sendiri.

profil penulis: Dunia Perpustakaan

duniaperpustakaan.com merupakan portal seputar bidang dunia perpustakaan yang merupakan bagian dari CV Dunia Perpustakaan GROUP. Membahas informasi seputar dunia perpustakaan, mulai dari berita seputar perpustakaan, lowongan kerja untuk pustakawan, artikel, makalah, jurnal, yang terkait bidang perpustakaan, literasi, arsip, dan sejenisnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *